Di Balik Cerita Mistis Lawang Sewu

oleh -1 views
Lawang Sewu
Lawang Sewu. ©Pixabay

Lingkarjateng.com, atau dalam bahasa Indonesia berarti Pintu Seribu dibangun pada tanggal 27 Februari 1904. Banyak orang mengkaitkan bangunan yang berada di depan ini dengan cerita mistis. Namun di balik itu semua, memiliki sejarah panjang.

Nama awal adalah Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat NIS). Sebelumnya aktivitas administrasi perkantoran NIS bertempat di Stasiun Gudang (Samarang NIS). Namun seiring pesatnya perkembangan jalur jaringan kereta, mengakibatkan bertambahnya personel teknis dan tenaga administrasi. Samarang NIS tidak bisa lagi menampung semuanya.

Berbagai upaya dilakukan termasuk dengan menyewa sejumlah tempat di sekitaran Samarang NIS, namun permasalahan belum selesai. Hingga akhirnya diusulkan untuk membangun kantor administrasi di lokasi saat ini.

NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di dua arsitek Amsterdam, Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota . Melihat dari cetak biru tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangani di Amsterdam tahun 1903. selesai dibangun tahun 1907.

Masyarakat menyebutnya karena keberadaan pintu yang sangat banyak di sana, meskipun jumlahnya tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.

Pada masa perjuangan, gedung ini menjadi saksi bisu Pertempuran lima hari, 14 Oktober sampai 19 Oktober 1945. Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran antara Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang.

Setelah kemerdekaan, bangunan ini digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Pemerintah Kota dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan sebagai atau bersejarah di Kota yang patut dilindungi.