Bupati Sragen Enggan Karantina Pemudik di Ruang Isolasi Khusus, Ini Alasannya

oleh
JELASKAN: Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat menggelar konfrensi pers Senin (13/4).(CR6/LINGKAR JATENG)

SRAGEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen enggan mengarantina pemudik yang datang dari sejumlah daerah zona merah (). Bahkan, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati enggan membuat tempat karantina khusus bagi pemudik.

Orang nomor satu di Sragen itu mengatakan, sudah menghimbau bagi warga Sragen yang tinggal di daerah zona merah untuk menunda kepulangannya ke Sragen. Sayangnya, banyak dari warga yang tak mengindahkan himbauan tersebut.

“Kalaupun mereka tetap pulang, kami tidak menyiapkan tempat khusus untuk karantina. Manajemen karantina itu sangat berisiko. Kenapa? Karena harus 14 hari. Artinya kita harus menyiapkan 14 tempat berbeda, semuanya dengan fasilitas yang baik,” katanya Minggu (5/4).

Ia menjelaskan, karantina bagi pemudik tidak bisa dilakukan hanya dengan mengumpulkan pemudik di suatu lokasi tertentu. Hal itu justru semakin meningkatkan potensi penyebaran . Dirinya menilai proses karantina bagi pemudik dikhawatirkan malah membuat yang sehat tertular dari mereka yang terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala.

“Semisal tanggal 4 April datang 60 pemudik, kita karantina di gedung SMS (Sasana Manggala Sukowati). Tanggal 5 April datang 30 pemudik, kita karantina di gedung Kartini. Tanggal 7 April datang lagi 100 orang masuk karantina di mana lagi? Tidak mungkin kita jadikan satu dengan yang datang tanggal 4 April,” terang Yuni.

Bupati menambahkan, hal seperti itu membuat karantina bagi pemudik sangat berisiko. Apalagi jika fasilitas pendukung yang kurang memadai, pemudik yang dikarantina justru bakal stres.

“Berarti harus ada 14 tempat (karantina), dengan fasilitas baik. Bisa saja kita tempatkan di gedung SD, tidak ada TV, tidak ada kamar mandi yang layak. Justru akan membuat yang dikarantina stres. Coba dipikirkan, tidak hanya karantina macam daerah yang lain,” paparnya.

Perempuan yang berlatar belakang Dokter ini paham apa yang harus dilakukan untuk menghadapi tingginya pemudik yang pulang ke Sragen selain opsi karantina. Membuat satgas di tingkat desa dinilai lebih efektif.

“Karena aku dokter aku tahu yang harus dilakukan. Karantina mandiri dengan diawasi satgas Covid desa akan lebih efektif. Sepanjang kami bisa membuat semua desa siaga, konsisten dan komitmen. Semoga semua bisa memahami ini dan bisa mengambil kebijakan yang tepat,” tandasnya. (cr6/lut)