Minggu, September 20, 2020
Beranda Edukasi Peran Penting Keluarga dalam Melakukan Perawatan Paliatif di Rumah serta Pemanfaatan Teknologi...

Peran Penting Keluarga dalam Melakukan Perawatan Paliatif di Rumah serta Pemanfaatan Teknologi Informasi Masa Kini dalam Perawatan Paliatif

*Oleh : Ayuk Cucuk Iskandar, S.Kep., Ns dan Fitri Arofiati, S.Kep., MAN., Ph.D

Ayuk Cucuk Iskandar, S.Kep., Ns
Ayuk Cucuk Iskandar, S.Kep., Ns (Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Fitri Arofiati, S.Kep., MAN., Ph.D
Fitri Arofiati, S.Kep., MAN., Ph.D (Pengajar /Dosen Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

A. Latar Belakang

Perawatan paliatif adalah perawatan yang berpusat pada pasien dan keluarga dengan pendekatan yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien (dewasa dan anak-anak) dan keluarga dengan penyakit yang mengancam jiwa.(Steele & Davies, 2015; WHO, 2018) Perawatan ini mencegah dan mengurangi penderitaan melalui identifikasi awal, penilaian yang benar dan perawatan rasa sakit dan masalah lain, baik fisik, psikososial atau spiritual. (WHO, 2018)

Pada ranah global, setiap tahun diperkirakan 40 juta orang membutuhkan perawatan paliatif, 78% di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Namun, hanya sekitar 14% orang yang membutuhkan perawatan paliatif saat menerimanya.(WHO, 2018) Orang yang membutuhkan perawatan paliatif adalah orang yang mempunyai penyakit yang mengancam jiwa, diantaranya meliputi kanker, penyakit neuron motorik, multiple sclerosis, advanced demensia, penyakit jantung, paru-paru atau ginjal tahap akhir, dan diagnosis lain yang mempunyai batas perkiraan hidup.(Hammill, 2018)

Berdasarkan WHO Global Health Estimates, sebagian besar orang dewasa yang membutuhkan perawatan paliatif meninggal karena penyakit kardiovaskular (38,5%), dan kanker (34%), diikuti oleh penyakit pernapasan kronis (10,3%), HIV / AIDS (5,7%), dan diabetes (4,5%).(Worldwide Palliative Care Alliance, 2014) Salah satu penyakit yang mengancam jiwa yaitu kanker, International Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun 2018 menyatakan bahwa penyakit kanker secara global telah meningkat menjadi 18,1 juta kasus baru dan 9,6 juta orang diantaranya mengalami kematian.(WHO., 2018) Sedangkan di Indonesia, berdasarkan hasil riskesdas 2018, prevalensi kanker naik dari 1,4 persen (Riskesdas 2013) menjadi 1,8 persen di 2018 dengan prevalensi tertinggi di Provinsi DI Yogyakarta.

Perawatan paliatif bukanlah masalah baru di Indonesia, di mana perkembangan perawatan paliatif telah ada sejak 1992. Namun, kemajuannya sangat lambat dan beragam di seluruh negeri. (Putranto, Mudjaddid, Shatri, Adli, & Martina, 2017) Pada tahun 2007 sudah terdapat Keputusan Menteri Kesehatan RI no 812/Menkes/SK/VII/2007 tentang Kebijakan Perawatan Paliatif.(Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no 812/Menkes/SK/VII/2007 Tentang Kebijakan Perawatan Paliatif, 2007).

Putranto et al (2017) mengemukakan bahwa kesulitan orang dengan penyakit yang mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan paliatif tersebut adalah penderitaan total yang merupakan kombinasi rumit dari rasa sakit fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, sehingga perawatan orang lain seutuhnya diperlukan.(Putranto et al., 2017) Gejala-gejala fisik dari penyakit yang dirasakan lebih lanjut seperti kekuatan fisik melemah, dan kelumpuhan membuat mereka kehilangan kemampuan untuk bergerak bebas di sekitar rumah dan kontribusi dirinya di masyarakat menjadi berkurang.(Hartogh, 2017; Madsen, Uhrenfeldt, & Birkelund, 2019) Hal tersebut membuat pasien merasakan rasa terisolasi menjadi semakin dominan.(Madsen et al., 2019) Mereka merasa diri sendiri bukan orang yang normal lagi dikarenakan hilangnya elemen penting yang menentukan peran dan status dirinya di lingkungan masyarakat. Pandangan orang lain terhadap dirinya menjadi hal yang dikhawatirkan oleh mereka. Keadaan tersebut membuat penderitaan menjadi semakin berat sampai pada hilangnya harga diri.(Hartogh, 2017) Bahkan untuk menghindari penderitaan di masa depan, orang dengan penyakit mematikan, salah satunya kanker dapat memutuskan untuk melakukan bunuh diri.(Granek et al., 2017)

Selain orang dengan penyakit mengancam jiwa, keluarga merupakan salah satu komponen yang mengalami tekanan emosional saat merawat dan tidak lepas dari beban berat saat merawat dan melakukan pendampingan. Keluarga melihat perubahan signifikan pada fisik, kesadaran yang menurut bahkan saat-saat sekarat. Keluarga mendapatkan perasaan takut, marah, kaget, dan tak berdaya ketika anggota keluarganya sekarat.(Bindley et al., 2018; Hammill, 2018) Hal tersebut dapat berkurang apabila keluarga memahami bagaimana mereka perawatan yang baik terkait dengan end of life bagi anggota keluarganya dengan penyakit yang mengancam jiwa, dimana penyakit tersebut sudah sangat sulit untuk disembuhkan.

B.Pemberdayaan Keluarga dengan anggotanya yang membutuhkan perawatan paliatif

Pemberdayaan keluarga dapat dilakukan dengan melaksanaan fungsi keluarga dalam perawatan dan pendampingan untuk anggota keluarga dengan penyakit yang mengancam jiwa, antara lain:

1.Perawatan dalam aspek psikologis, sosial, dan spiritual

Steele dan Davies (2015), mengemukakan bahwa terdapat transisi memudar dicirikan oleh tujuh dimeni, mendefinisikan kembali, membebani, berjuang dengan paradoks, bersaing dengan perubahan, mencari makna, hidup hari demi hari, dan mempersiapkan kematian. (Steele & Davies, 2015)

a.Mendefinisikan ulang
Bantu anggota keluarga yang sakit untuk memilih hal atau pekerjaan yang dapat di lakukan waktu “masa dulu sebelum sakit” dan “masa sekarang”. Penting bagi anggota keluarga yang sakit untuk dapat mendefinisikan ulang kehidupan mereka, apabila tidak bisa, maka hal yang terjadi adalah munculnya rasa frustrasi, marah, dan merasa tidak berharga.

Menjadi keluarga pendukung, keluarga dalam hal ini dapat mendukung anggota yang sakit dengan cara “melanjutkan seperti biasa” setelah dapat melakukan bagian pertama yakni mendefinisikan ulang. Tetap libatkan anggota yang sakit dalam kegiatan yang biasa ia lakukan dengan memodifikasi sesuai dengan porsi tubuhnya saat ini. Hindari sikap terlihat mengasihani dirinya dan tunjukkan bahwa keluarga tetap mendukung kegiatan yang menyenangkan untuknya, dengan catatan tidak membahayakan.

Menjadi keluarga pendukung bukan berarti tanpa tantangan, bisa saja terjadi ketegangan emosional dalam merawat anggota yang sakit ini, tetapi coba lah untuk meningkatkan cara berkomunikasi tanpa melukai perasaan si anggota keluarga yang sakit dengan mengikuti pelatihan dan melihat sumber di internet.

b.Membebani
Jika pasien melihat diri mereka sebagai tanpa tujuan, tergantung, dan tidak bergerak, mereka memiliki perasaan lebih besar membebani orang yang mereka cintai. Semakin realistis pasien mendefinisi ulang diri mereka sendiri ketika kapasitas mereka berkurang, semakin akurat mereka dalam persepsi mereka tentang beban. Ketika anggota keluarga yang sakit mengalami hal ini maka yakinkan mereka bahwa keluarga merawat mereka dengan dasar penghargaan cinta.

Mendapatkan dukungan pengasuhan untuk keluarga pendukung. Jika anggota keluarga kurang mampu mendefinisikan kembali diri mereka sendiri tidak melihat bahwa mereka membebani anggota keluarga lainnya dengan cara apa pun, maka tak ayal keluarga yang merawat dapat merasakan perasaan tidak dihargai, kelelahan, dan bahkan dapat menimbulkan rasa “menunggu pasien mati”. Keluarga yang mengalami hal ini dapat melakukan mendefinikan ulang bahwa merawat keluarga sakit menambah bekal pahala untuk di akhirat, dan mencari penguatan ke sumber dukungan lain, misalkan ke keluarga besar untuk membantu dalam perawatan sehingga keluarga pendukung mendapatkan waktu untuk istirahat sementara menghilangkan perasaan negatif yang muncul.

BACA JUGA:  Jateng Simulasi Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka

Selain hal yang telah disebutkan, apabila jeda dan sumber daya tidak mencukupi, terdapat layanan lain yang dapat ditawarkan kepada keluarga pendukung, setiap keluarga harus memutuskan apa yang sebenarnya akan bermanfaat bagi mereka. Untuk beberapa keluarga, layanan rawat inap selama tahun terakhir kehidupan dapat membantu meringankan beban mereka.

c.Berjuang dengan paradox, bertahan dengan perubahan dan mencari makna hidup dari hari ke hari
Berjuang dengan paradoks berasal dari kenyataan bahwa pasien hidup dan mati. Bagi anggota keluarga yang sakit, perjuangan berfokus pada keinginan untuk percaya bahwa mereka akan bertahan dan mengetahui bahwa mereka tidak akan selamat. Dalam hal ini keluarga dan anggota dapat mendefinisikan bahwa penyembuhan tidak hanya penyembuhan fisik saja, melainkan emosional dan spiritual serta berikan pemahaman bahwa makhluk yang hidup akan selalu menemui kematian.

Keluarga dapat mendampingi dan merawat anggota keuarga yang sakit saat ia mengalami perubahan fisik, emosional dan spiritual adalah keluarga yang hebat walaupun memang tidak mudah. Proses perjalanan saat ada sakit dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.

Keluarga di harapkan selalu membimbing dan mengarahkan diri mereka dan anggota keluarga yang sakit untuk mengevaluasi kembali kehidupan yang telah dijalani, dalam fase ini, mendekatkan diri ke dalam hal spiritual lebih dianjurkan. Hal yang dapat dilakukan yaitu mendekatkan diri kepada Yang Kuasa dan mencari arti perjalanan kehidupan dengan penyakit. Ketika dalam fase ini dapat ditangani maka kematian tidak lagi menjadi ketakutan terbesar dalam keluarga dan anggota yang sakit.

d.Mempersiapkan kematian
Walaupun tidak mudah, keluarga diharapkan mampu membimbing dan mendampingi anggota yang sakit untuk mempersiapkan kematian, sehingga tidak ada penyesalan yang di alami setelah anggota yang sakit telah meninggal. Usahakan untuk menanyakan keinginan-keinginan anggota yang sakit dan penuhi bila memang memungkinkan. Biasanya mereka akan meminta bertemu dengan orang-orang yang di cintai dan berarti dalam hidup mereka. Keluarga dapat memfasilitasi dengan mendatangkan dan membuat pertemuan dengan anggota keluarga yang sakit. Tidak hanya untuk anggota yang sakit, keluarga juga dapat mempersiapkan diri apabila melanjutkan hidup tanpanya. Persiapan yang dilakukan ini dapat membuat keluarga dan pasien lebih siap ditinggalkan dan meninggalkan tanoa penyesalan nantinya.

BACA JUGA:  Tips Tetap Sehat di Musim Hujan

2.Perawatan dalam aspek Fisik

a.Identifikasi ketidaknyamanan fisik dan penanganannya
Beberapa gejala yang disebabkan oleh penyakit yang membatasi hidup, yaitu breathlessness, fatigue, stress and anxiety, sleeplessness, pain, memory, attention, and information processing, lymphoedema and oedema management, dan skin care and comfort.(Hammill, 2018) Beberapa gejala yang dapat di bantu oleh keluarga dalam penanganannya di rumah:

1)Terengah-engah (breathlessness): Keluarga dapat belajar tentang manajemen stres dan kecemasan, strategi koping, penentuan posisi, dan teknik konservasi energi, Keluarga dapat mengurangi dampak sesak napas yang dialami anggota keluarga yang sakit.

2)Kelelahan: Dalam hal ini berhubungan dengan fase “mendefinisikan kembali”, keluarga dan anggotanya yang sakit berkerja sama dalam memilih aktivitas, pekerjaan dan hal lain yang memerlukan energi sesuai dengan kemampuan anggota keluarga yag sakit.

3)Kurang Tidur: Keluarga rutin untuk mengajak anggota keluarga yang sakit tentang perilaku tidur yang baik, mengubah lingkungan tempat tidur, atau memperkenalkan rutinitas tidur baru untuk meningkatkan kebiasaan tidur anggotanya yang sakit.

4)Nyeri: keluarga membantu dan membimbing anggota yang sakit agar dapat meminimalkan tingkat nyeri melalui latihan dan terapi, beberapa diantaranya relaksasi otot progresif dan Teknik napas dalam.

5)Memori, proses awal, dan pemrosesan informasi: Keluarga membantu mengurangi dampak gejala kognitif dengan menerapkan berbagai strategi yang dirancang untuk mengkompensasi kehilangan atau untuk melatih kembali memori dan perhatian anggota keluarga yang sakit, dalam hal ini kepada anggota keluarga yang mengalami demensia. Salah satu yang dapat dilakukan adalah bercerita dengan mengenang masa lalu yang indah dan memorable.

6)Perawatan kulit dan kenyamanan: Keluarga memerlukan segala bentuk kasur atau bantal perawatan tekanan untuk membantu mengurangi atau mencegah sakit akibat tekanan atau membuat istirahat lebih nyaman ketika anggota yang sakit hanya bisa beraktivitas di atas tempat tidur.

C.Pemanfaatan Teknologi Infoemasi untuk Pemberdayaan Keluarga
Teknologi informasi seperti aplikasi dapat dimaanfaatkan untuk memberdayakan keluarga. Dengan membuat aplikasi yang ditujukan kepada keluarga dalam merawat anggota yang sakit dengan penyakit yang mengancam jiwa dalam aspek perawatan secara fisik, psikologis, sosio, dan spiritual. Selain itu, keluarga juga mengalami tekanan emosional yang tinggi saat melakukan perawatan, maka aplikasi ini akan di lengkapi dengan edukasi koping yang dapat dilakukan oleh keluarga itu sendiri. Aplikasi yang di maksudakan dapat membantu membimbing keluarga dapat mecakup fitur:

1.Fitur record, yang dapat diakses oleh perawat keluarga. Berupa perkembangan keadaan pasien dan penanganan yang telah di lakukan keluarga.

2.Pemberian konten edukasi terkait penyakit dan penanganannya pada keluarga akan disesuaikan sesuai kebutuhan keluarga terkait kondisi anggota yang sakit.

3.Konten dalam aplikasi tidak hanya berupa tulisan, namun juga berupa audio visual berupa video edukasi dan juga konten suara yang bisa di akses, meliputi Q n A.

Akan lebih bagus lagi ketika ada perawat yang tergabung dalam system aplikasi ini, sehingga edukasi dan bimbingan perawatan paliatif kepada keluarga menjadi lebih maksimal.

Hal ini sesuai dengan peran perawat sebagai pemberi layanan, edukator dan komunikator.

1.Pemberi Layanan
Sebagai pemberi layanan, perawat membantu klien memperoleh kembali kesehatan dan kehidupan maandiri yang optimal melalui proses pemulihan. Pemulihan yang dimaksud meliputi unsur fisik, kesejahteraan emosional, spiritual dan social.(Potter & Perry, 2009)

2.Edukator
Sebagai edukator, perawat dapat memberikan edukasi kesehatan terkait kondisi penyakit klien dengan proses belajar. Perawat dapat menjelaskan fakta kesehatan, mendemonstrasikan prosedur seperti perawatan diri, memperbaiki perilaku, dan mengevaluasi kemajuan klien dan keluarga dalam belajar.(Potter & Perry, 2009)

3.Komunikator
Komunikasi sangat penting antara perawat dan klien, ketika perawat mengenal klien, mengetahui kelebihan kelemahannya, kebutuhan dan ketakutan mereka dalam menghadapi penyakit. Tanpa komunikasi yang jelas, akan menjadi sulit untuk memberikan kenyamanan dan dukungan emosional dan melayani dengan efektif.(Potter & Perry, 2009) Ketika perawat dapat menjalani perannya sebagai komunikator dengan baik, maka perawat tersebut dalam menjadi orang yang nyaman di ajak berkonsultasi oleh klien dalam menghadapi segala permasalahan penyakitnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Populer

Kasus Positif Covid-19 Bertambah 28 Orang

PEMALANG - Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Pemalang, Tutuko Raharjo kembali menginformasikan perkembangan Covid-19 di Kabupaten Pemalang, kemarin (17/9). Tutuko menyebutkan, adanya penambahan...

Tanamkan Wawasan Kebangsaan Kekinian untuk Generasi Muda

SEMARANG - Menanamkan wawasan kebangsaan pada generasi milenial, tidaklah mudah. Sebab, mereka hidup di tengah canggihnya teknologi, yang telah menghilangkan batas teritori, dan mengubah masyarakat...

Tes SKB CPNS 2019 Dilaksanakan

KUDUS - Proses seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Formasi Tahun 2019 Kabupaten Kudus kembali digelar. Sebanyak 921 peserta akan mengikuti Seleksi Kompetensi...

UNS Gandeng Pemkab Magetan Bangun Universitas Negeri

JOGLOJATENG.COM, SOLO - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggandeng Pemerintah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, untuk melakukan ekspansi program pendidikan di luar Kota Solo. Rektor UNS...

Internet Gratis di Lokasi Wisata

KUDUS – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, menambahkan fasilitas internet gratis di tempat wisata di Kota Kretek. Penambahan fasilitas ini di dilakukan guna menambah...

Jeli saat Membeli Jamu Instan

KUDUS - Jamu rempah tradisional dipercaya mampu meningkatkan imunitas tubuh dalam melawan virus corona. Hal ini yang mendorong TP PKK Kabupaten Kudus bersama TP...

Pelanggar Protokol Kesehatan di Jateng Capai Angka 25 Ribu Orang

SEMARANG - Upaya pemerintah untuk menekan angka penyebaran Covid-19 dengan cara razia protokol kesehatan, terus dilakukan. Hingga saat ini, tercatat ada 25.669 orang yang terjaring...

Polda Jateng Terhitung Hari ini Laksanakan Operasi Yustisi guna Memutus Mata Rantai Penyebaran COVID-19

SEMARANG - Pagi ini Wakapolda Jateng Brigjen Pol Abiyoso Seno Aji memimpin Apel Pagi di Halaman Mapolda Jateng dengan dihadiri seluruh Pejabat Utama Polda...

13 Ribu Mahasiswa Baru Undip Dikukuhkan

SEMARANG - Sebanyak 13.198 mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip) resmi dikukuhkan. Pengukuran itu melalui gelaran Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru secara daring dan terpusat dari gedung...

Sampaikan Ideologi Pancasila, Ganjar Disorot BPIP

SEMARANG - Gaya khas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam menyampaikan dan mengedukasi masyarakat terkait ideologi Pancasila menjadi sorotan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). “Kami melihat...