Ubah Sampah Jadi Pundi Rupiah

  • Bagikan
menimbang berat sampah
TERKUMPUL: Petugas sedang menimbang berat sampah. (DINKOMINFO KOTA PEKALONGAN/ LINGKAR JATENG)

PEKALONGAN – Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Lingkungan Hidup menggalakkan penanganan sampah di lingkungan Kota Pekalongan. Upaya tersebut salah satunya melalui Program Ayo Pilah Sampah dan Menabung di Bank Sampah, Insya Allah Berkah.

Bank Sampah sendiri merupakan konsep pengumpulan sampah kering yang dipilah dan memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Warga yang menabung pun disebut sebagai nasabah karena sama halnya dengan bank biasa yang memiliki buku tabungan.

Kepala Seksi Pelayanan Sampah, Yuliastri menjelaskan bahwa pengelolaan sampah dengan sistem bank sampah ini diharapkan mampu membantu pemerintah dalam menangani sampah dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Terlebih, dalam peringatan World CleanUp Day (WCD) yang diinisiasi sejak tahun 2018 sebagai ajang bersih-bersih sampah.

“Sebenarnya peringatan WCD ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2018 melalui aksi membersihkan sampah-sampah yang berada di seluruh kawasan di perkotaan hingga tingkat kelurahan secara serentak. Sampah-sampah dikumpulkan, dipilah terlebih dahulu mana yang anorganik dan organik untuk kemudian bisa dibawa ke bank sampah induk,” tutur Yuli saat kegiatan Aksi Pungut Sampah dalam rangka memperingat WCD di Stadion Hoegeng Kota Pekalongan, belum lama ini.

Yuli mengatakan, masyarakat yang menabung di bank sampah akan mendapatkan buku rekening tabungan sebagai catatan pemasukan tabungan sampah. Tabungan dapat diakumulasikan dan dicairkan setiap bulannya menjadi pundi-pundi rupiah sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

BACA JUGA:  Bangun Pasar, Ajukan Rp 200 M ke Pusat

“Masyarakat bisa mulai memilah sampah rumah tangga di antaranya sampah organik dan yang bisa didaur ulang dimana sampah yang sudah dipilah oleh masyarakat, bisa disetor ke bank sampah induk. Di sana, sampah bernilai ekonomi seperti botol plastik, kardus dan lain-lain bisa dijual yang secara tidak langsung juga dapat berdampak pada meningkatnya taraf ekonomi masyarakat,” katanya.

“Untuk harga nilai jualnya masing-masing, misalnya saja sampah plastik mulai dari Rp300-Rp2000,00 per kilogramnya, sampah botol mulai dari Rp100-Rp800, kertas-kertas mulai dari Rp700-Rp1600,00 per kilo, sampah berupa bahan atom, besi,aluminium juga bisa ditabung dan dijual di Bank Sampah Induk Kota Pekalongan,” imbuh Yuli.

Yuli menambahkan, dalam peringatan WCD Tahun 2020 ini, Bank Sampah Induk Kota Pekalongan turut berpartisipasi mengajak masyarakat untuk mulai sadar memilah sampah mulai dari rumah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban atau volume sampah yang terkirim di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Mudah-mudahan aksi ini tidak hanya berhenti pada hari ini saja, namun bisa berkelanjutan. Masyarakat bisa terus memilah sampahnya dari rumah kemudian bisa secara kelompok atau individu untuk menjual atau menabung ke Bank Sampah Induk Kota Pekalongan yang berlokasikan di Kelurahan Kuripan Kertoharjo,” ujarnya. (hms/gih)

  • Bagikan