Taj Yasin : Maksimalkan Jogo Santri Cegah Klaster Ponpes

  • Bagikan
Taj Yasin di Ponpes Al -Ittihaad, Pasir Kidul Banyumas
SAMBANGI: Taj Yasin di sela kunjungan di Ponpes Al -Ittihaad, Pasir Kidul Banyumas, kemarin. (HUMAS/ LINGKAR JATENG)

BANYUMAS – Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, meminta pengasuh pondok pesantren meningkatkan kewaspadaan dan mengimbau warga sekitar untuk sementara tidak mengunjungi pengajian atau mengikuti kegiatan lainnya. Upaya itu bertujuan mencegah dan memutus rantai penyebaran Covid-19 di lingkungan ponpes.

“Kalau ada orang luar pesantren ingin ikut mengaji, ya sudah pakai saja radio dan teknologi digital lainnya. Sehingga pengajian bisa tetap didengar dari rumah masing-masing dan tidak ada kerumunan di pesantren,” ujar Taj Yasin di sela kunjungan di Ponpes Al -Ittihaad, Pasir Kidul Banyumas, kemarin.

Munculnya klaster penyebaran Covid-19 di lingkungan ponpes di Jawa Tengah, lanjut dia, pengurus ponpes diharapkan menggalakkan Jogo Santri dan lebih tanggap. Serta, lebih masif lagi untuk membuka diri bahwa penanganan di ponpes harus dikampanyekan.

Dari sekitar 5.000 ponpes yang tersebar di berbagai daerah di Jateng, terdapat 6 ponpes yang terpapar Covid-19, antara lain ponpes di Banyumas, Kebumen, dan Batang.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam menangani COVID-19, karena yang lebih ditaati masyarakat adalah para ulama. Maka kami berharap para ulama yang ada di Jateng  bisa bersinergi dengan pemerintah untuk bersama-sama mencegah penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Demikian pula bagi warga atau wali santri diminta untuk menahan diri tidak menjenguk keluarganya di ponpes. Meskipun santri hanya berada di dalam ponpes, namun dapat terpapar Covid-19 akibat berinteraksi dengan warga dari luar ponpes termasuk wali santri yang terkena virus Corona kemudian datang menjenguk sehingga santri atau kiai di ponpes menjadi tertular.

BACA JUGA:  Hewan Kurban Wajib Memiliki Surat Sehat

“Jangan sampai ada lagi perselisihan antara wali santri dan pengurus ponpes yang saling menyalahkan. Wali santri menyalahkan pihak ponpes yang dinilai tidak ketat menjaga ponpes, sehingga ada santri yang tertular Covid-19. Pihak ponpes juga menyalahkan wali murid yang sudah dilarang menjenguk tapi tetap nekat datang sehingga penghuni ponpes tertular Corona,” terangnya.

Sementara itu, untuk menghindari kerumunan atau kegiatan keagamaan di kampung, Gus Yasin menyarankan untuk kegiatan tahlil, warga dapat memanfaatkan pengeras suara di musala tanpa mengumpulkan banyak orang dalam satu ruangan. Peserta tahlil di musala  maksimal sekitar 5 orang, sementara peserta lainnya mengikuti tahlil dari rumah masing-masing.

“Tahlil intinya adalah berdoa, sedangkan berdoa tidak harus bareng-bareng. Jadi kalau di kampung ada orang yang meninggal, lalu diumumkan kapan waktu atau jam berapa pelaksanaan tahlilnya. Kemudian ada kiai yang memimpin tahlil di musala melalui pengeras suara dan diikuti warga dari rumah masing-masing,” jelasnya. (hms/yos)

  • Bagikan