Atasi Lahan Kritis, Siapkan Program Sabuk Gunung

  • Bagikan
Sawah di Kabupaten Temanggung
LUAS: Sawah di Kabupaten Temanggung. (HUMAS/ LINGKAR JATENG)

TEMANGGUNG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung, sedang menggalakkan Program Sabuk Gunung yang bertujuan untuk mengembalikan keadaan alam seperti dulu. Lantaran, saat ini di wilayah Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau dirasa sudah kritis, ditandai dengan banyaknya sumber mata air yang surut dan kering.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Temanggung, Entargo Yutri Wardono mengatakan, Program Sabuk Gunung ini akan dilaksanakan pada Tahun 2021 dengan anggaran APBD sebesar Rp 9 miliar dan saat ini sudah dilakukan berbagai persiapan.

Pasalnya, berkaitan dengan konservasi melibatkan berbagai elemen, termasuk masyarakat tani, sehingga harus ada upaya pendekatan secara humanis, serta edukatif untuk keberlangsungan ekosistem alam jangka panjang.

“Sabuk Gunung itu kegiatannya dalam rangka konservasi lahan di Gunung Sumbing, Sindoro, Prau, rencana kegiatannya di 2021, melalui gerakan masyarakat. Ini termasuk dalam rangka pelestarian alam, menghidupkan ratusan mata air yang telah surut (kering), jadi merupakan program jangka panjang, agar hasilnya juga bisa dinikmati anak cucu,” ujarnya, kemarin.

Nantinya, ada satu desa yang akan menjadi pilot project atau desa binaan disetiap kecamatan, lalu pada tahap berikutnya desa tersebut akan mejadi percontohan (direplikasi) bagi desa-desa lain.

BACA JUGA:  DPMPTSP Temanggung Dorong UMKM Miliki SPP-IRT

Konservasi di lahan yang membentang di tiga gunung tersebut melingkupi 12 kecamatan, mulai Selopampang, Tlogomulyo, Bulu, Bansari, Ngadirejo, Wonoboyo, Tretep dan lain-lain, termasuk memanfaatkan lahan tidak produktif.

Menurutnya, proses edukasi ke masyarakat harus sudah dilakukan mulai sekarang. Dengan berbagai pendekatan termasuk melalui budaya. Penghijauannya dengan tanaman tahunan bukan tanaman musiman, seperti Macadamia.

“Sehingga ada nilai ekonominya di sini, agar nanti masyarakat juga mendapat hasil, dalam waktu lima tahun sudah tumbuh. Kita tidak akan menghilangkan tanaman tembakau, hanya mensubtitusi tembakau tetap ada dan diversifikasi dengan tanaman lain supaya ekonomi tetap berjalan,” jelasnya.

Dikatakan, pada lahan-lahan kritis terutama di punggung Gunung Sumbing, Sindoro dan Prau akan dilakukan penghijauan, salah satunya ditanami tanaman keras atau tanaman tahunan.

Ia menyontohkan, tanaman Macadamia yang merupakan spesies tumbuhan dari Familia Protoceae. Tanaman ini memiliki nilai ekonomis tinggi karena bijinya yang menyerupai Kacang Almond dengan rasa seperti mentega harga jualnya tinggi bisa mencapai Rp 70.000 per kilogram, bahkan bisa mencapai ratusan ribu rupiah. (hms/yos)

  • Bagikan