Tumbuhkan Budaya Literasi dari Desa

  • Bagikan
Kegiatan Pondok Literasi
AKTIF: Kegiatan Pondok Literasi, pendampingan belajar dan bermain permainan tradisional. (AFIFUDIN/ LINGKAR JATENG)

PEMALANG – Demi meningkatkan kesadaran serta minat baca kepada masyarakat, Pemuda Desa Kejene membentuk Pondok literasi. Bertempat di Dukuh Cerme komunitas ini ingin menumbuhkan budaya literasi dari Desa.

Wedha Luthfi Novitasari salah satu penggagas Pondok Literasi menceritakan alasan kenapa muncul ide itu. Alasannya karena keresahan ia bersama beberapa temannya melihat anak-anak yang lebih sering memegang handphone dari pada buku.

“Kami itu resah atas apa yang terjadi di desa khususnya pemuda dan anak-anak yang lebih sering main game di handphone sampai lupa waktu,” tuturnya.

Wedha melanjutkan, menurutnya tidak ada masalah dengan bermain game. Tapi kalau dengan bermain game kemudian menjadi candu apalagi di usia anak-anak hingga remaja, itu baru masalah.

“Masa anak-anak hingga remaja adalah masa untuk bermain, belajar, mengeksplor dan menggali potensi diri, kasihan kalau setiap harinya sibuk dengan handphone,” imbuhnya.

Dirinya menambahkan, untuk kegiatan Pondok Literasi bersifat pendampingan pembelajaran mulai tingkat dasar sampai atas. Bahkan diskusi bersama-sama dengan teman-teman yang putus sekolah.

Penanaman budaya literasi dilakukan dengan cara membuka perpustakaan jalanan. Serta melestarikan seni dan budaya yang semakin menghilang.

BACA JUGA:  Pedagang Positif Covid-19, Pasar Comal Ditutup

“Kegiatan kami dilakukan setiap hari Rabu untuk pendampingan pembelajaran, Sabtu untuk meningkatkan minat baca dengan perpustakaan jalanan, dan Minggu untuk bermain permainan tradisional atau latihan seni budaya,” lanjutnya.

Sementara itu, untuk pengasuh Pondok Literasi itu terdiri dari beberapa pemuda desa. Wedha menegaskan bahwa siapapun boleh ikut bergabung untuk berpartisipasi dalam upaya menanamkan budaya literasi dari tingkat desa.

Wedha berharap dengan adanya pondok literasi ini bisa menjadi wadah untuk anak-anak dan pemuda desa dalam mengembangkan diri mereka di bidang disukai. Dan tentunya dengan rasa percaya diri.

“Semoga nantinya program kami juga akan terus berkembang, mulai dari menanamkan budaya litery, melatih Softskill, hingga mampu memaksimalkan potensi desa,” tuturnya.

Terkait sumber dana kegiatan Wedha menjelaskan, itu murni dari teman-teman pondok literasi, tidak ada penarikan uang sepeserpun kepada anak-anak. Menurutnya ini adalah bagian dalam perjuangannya bersama teman-teman.

“Kami tidak menerima bayaran, namun kami menerima donasi berupa materi, buku, doa dan semangat,” pungkasnya. (cr1/fat)

  • Bagikan