Kampung Budaya Piji Wetan Diresmikan

  • Bagikan
Kampung Budaya Piji Wetan
LESTARIKAN BUDAYA: Salah satu penampilan yang ditunjukkan pada kegiatan Kampung Budaya Piji Wetan, Minggu (15/11). (SYAMSUL HADI/ LINGKAR JATENG)

Kudus, lingkarjateng.com – Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW), Desa Lau, Kecamatan Dawe, resmi diluncurkan, Minggu (15/11). Pada kegiatan tersebut, terdapat empat acara, yakni Pasar Ampiran, kelas pagi, Panggung Ngepringan, dan Taman Dolanan.

Penggagas KBPW, Muhammad Zaeni mengatakan, pada acara pertama yakni kelas pagi. Membahas tentang citizen journalism yang diisi oleh Rosidi yang biasa disapa Kang Eros merupakan seorang wartawan senior. Dan untuk moderatornya Nor Zahroh atau Zaza seorang mahasiswa memiliki pengalaman organisasi yang mumpuni.

“Lalu, ada Pasar Ampiran. Di sini pengunjung diharuskan menggunakan uang koin dari kayu, untuk membeli makanan tradisional khas Desa Piji Wetan. Seperti Sego Godong Jati, Nasi Puyuh, Sego Aking, kelor, Sego Wiwit, Sego Pager Mangkok,” ucapnya

Untuk Taman Dolanan sendiri, bisa bercerita tentang filosofi permainan tradisional. Seperti egrang, lompat tali, gedrik atau sawahan, dan masih banyak lagi.

“Disitu anak-anak sambil bermain, juga diberikan makna dan maksud dari permainan-permainan tersebut yang berkaitan dengan kehidupan satu persatu,” jelasnya.

BACA JUGA:  Memasuki Musim Hujan, DKK Kudus Antisipasi Penyebaran DBD

Kemudian, ada Panggung Ngepringan. Yakni pentas seni rakyat yang menceritakan tentang Legenda Sunan Muria dan asal usul Dukuh Bakaran. Tidak luput juga ditampilkan pentas terbang papat dan musik band.

Dengan adanya empat gelaran pada launching Kampung Budaya Piji Wetan tersebut, diharapkan dapat menghidupkan perekonomian warga setempat. Sekaligus bisa saling guyub rukun antar sesama.

“Harapannya nantinya bisa menghidupkan ekonomi rakyat, menumbuhkan semangat guyub rukun, dan gotong-royong dalam bermasyarakat. Karena semua warga Kampung Piji Wetan, dari anak-anak hingga tua turut andil semua,” imbuhnya

Acara tersebut dimulai dari pukul 06.00 sampai 11.00. Acara itu digelar dengan memanfaatkan kampung atau lahan warga setempat.(sam/akh)

  • Bagikan