Susah Bernafas, Bagaikan Malam Terakhir

  • Bagikan
Ahmad Kholil, Komisioner KPU Kudus
KENAKAN PAKAIAN ADAT: Ahmad Kholil, Komisioner KPU Kudus foto dimomen HUT Kudus sebelum dinyatakan kena Covid 19 dua bulan lalu. (DOK PRIBADI)

Lingkarjateng.com – Pakaian adat Kudus lengkap saya kenakan hari itu. Tepat pada Rabu, 23 September 2020. Itulah hari bersejarah. Kota Kudus berulang tahun ke-471. Saya bersama teman komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kudus pun memanfaatkannya dengan foto bersama. Dengan banyak pose dan gaya.

Usai momen itu, saya pun kembali ke meja ruangan. Bersandar di kursi. Rasanya capek sekali. Lelah. Lemas. Padahal hanya foto bersama. Meskipun berdiri, paling banter setengah jam. Saya merasakan tubuh tidak seperti biasanya. Akhirnya saya putuskan pulang ke rumah. Beristirahat.

Sayangnya, ketika sampai rumah tidak bisa tidur. Ada pak tukang bangunan membenahi bagian belakang rumah. Suaranya bising. Akhirnya hanya tiduran. Itu berlangsung sampai besok paginya, Kamis 24 September 2020.

Saya belum berani ke dokter. Maklum, musim corona rasanya “parno” kalau ke dokter. Pikirannya sudah macam-macam. Apalagi ke rumah sakit. Hal yang ingin dihindari semua orang. Ditambah melihat perawat dan dokter memakai pakaian mirip astronot. Wow…rasanya merinding. Mendingan kalau sakit di rumah saja. Saya pun berpikiran demikian.

Obat antibiotik, paracetamol, dan flu saya minum. Beli sendiri di apotek. Tapi tidak mempan. Masih meriang. Malah muncul batuk. Istri saya menyarankan ke dokter. Akhirnya saya turuti. Jumat pagi, 25 September 2020 saya ke dokter. Diberi obat yang hampir sama dengan yang saya beli sendiri. Sekaligus minta surat izin tidak masuk kerja.

Hari berikutnya, Sabtu, 26 September 2020, berobat lagi. Kali ini ke klinik. Panasnya tidak turun. Masih batuk juga. Bertambah parah. Lagi-lagi dari klinik dikasih obat antibiotik, flu, dan penurun panas.

Heran. Obat sudah hampir habis, kok belum ada tanda-tanda membaik. Sudah genap empat hari. Minggu sore, 27 September, saya beranikan diri WA (WhatsApp) Direktur Rumah Sakit (RS) Aisyiyah Kudus, Bapak Dokter Hilal Aryadi. Saya menanyakan kira-kira obat apa yang bisa menyembuhkan saya? Sudah empat hari panas dan batuk tidak reda meskipun sudah minum obat. Dan saya tegaskan di WA itu, saya belum berani ke rumah sakit. Masih takut dan khawatir karena sedang musim corona.

BACA JUGA:  Bencana Longsor Sebabkan Tembok Rumah Retak

Dokter Hilal Aryadi benar-benar luar biasa. Sangat bijak. Sosok direktur rumah sakit yang bisa memahami perasaan pasiennya. Dengan santunnya beliau menjawab: “Mas Alan silakan datang ke rumah saya. Periksa dulu. Kalau butuh dilaborat biar dilaborat. Apabila tanda klinis sudah baik, cukup dikasih obat,” kata Dokter Hilal.

Rasanya plong. Adem. Tidak perlu ke rumah sakit. Besok cukup periksa ke Dokter Hilal. Saya dan istri pun yakin, batuk dan panas saya bisa diobati tanpa harus ke rumah sakit.

Namun, keyakinan itu pupus. Belum sempat berobat ke Dokter Hilal, pada malamnya, pukul 22.00,  tiba-tiba sesak nafas. Tidak bisa tidur. Rasanya paru-paru seperti tertarik. Benar-benar susah bernafas. Panas juga belum turun. Akhirnya, pukul 01.00 dini hari (Senin, 28 September) saya putuskan ke RS Aisyiyah Kudus.

Di rumah sakit tersebut, saya di rapid test. Hasilnya Nonreaktif. Saya mau dimasukkan ke ruangan biasa. Istri yang menemani malam itu sudah menunjuk ruang VIP biar nyaman saat perawatan. Saya pun lega, tidak Covid (batin saya).

Sayangnya, kelegaan itu tak bertahan lama. Malam itu saya di-rontgen. Hasilnya, ada bercak putih di paru-paru, ditambah pembengkakan di jantung. Hal itulah yang membuat saya susah bernafas. Saya pun akhirnya masuk ruang isolasi. Tidak boleh ditunggui. Dokter di IGD saat itu menduga saya terkena Covid 19.

Shock, stres, kaget, dan bermacam-macam yang ada dipikiran. Berat badan saya 104 kg, dengan tinggi badan 169 cm. Tergolong obesitas. Bernafas biasa saja terkadang memang sesak. Ada penumpukan lemak di tubuh. Ditambah ada dugaan Covid. Tidak terbayangkan, betapa sesak sekali.

Saya tidak merokok. Juga tidak biasa minum kopi hitam. Ketika paru-paru muncul bercak, kok seperti tidak mungkin. Tapi itu nyata. Disitulah dugaan Covid 19. Karena biasanya (kata dokter) Covid memang menyerang paru-paru. Dampaknya pneumonia. Susah bernafas.

Besoknya, saya di-swab. Hasilnya positif. Saya sudah tidak bisa berpikir apa-apa. Malam itu rasanya seperti malam terakhir bagi saya. (*/bersambung)

 

  • Bagikan