Kultus Maradona Jauh Melebihi Lapangan Sepak Bola

  • Bagikan
Diego Maradona
SELEBRASI: Diego Maradona usai mencetak gol dalam semifinal Piala Dunia 1986 melawan Belgia pada 25 Juni 1986 di Mexico City. (ANTARA/ LINGKAR JATENG)

JAKARTA – Legenda sepak bola asal Argentina Diego Maradona meninggal dunia dalam usia 60 tahun. Sosok yang kerap bandingkan dengan Pele sebagai pesepak bola terbaik sepanjang masa itu wafat karena serangan jantung.

Pada awal bulan ini, ia telah menjalani operasi otak. Pelatih klub Gimnasia itu telah dirawat di rumah sakit sejak awal November. Beberapa hari setelah merayakan ulang tahunnya. Ia dilarikan ke rumah sakit karena mengeluh mudah lelah.

Tes-tes yang dilakukan di Klinik La Plata mengungkapkan terdapat gumpalan darah pada otak Maradona. Kemudian membuat ia harus menjalani operasi. Maradona keluar dari rumah sakit untuk menjalani perawatan di rumah, yang dilakukannya di wilayah dekat Tigre, bagian utara Buenos Aires.

Namun pada Rabu (25/11) pagi waktu setempat ia menderita serangan jantung. Paramedis yang segera dilarikan ke rumahnya tidak mampu mencegah sang legenda berpulang meski telah memberikan tindakan maksimal.

Diego Maradona punya bakat yang lebih banyak ketimbang hampir semua pesepak bola lainnya dalam sejarah. Namun status kultusnya di Argentina dan di seluruh dunia jauh melampaui lapangan.

Kekurangan-kekurangan dia membuatnya menjadi manusia dan sifatnya yang petarung membuat dia disanjung. Maradona turut menjuarai Piala Dunia 1986. Ia juga mengangkat tinggi-tinggi Napoli sampai tak ada yang menandinginya.

Kemudian dalam satu pertandingan penting melawan Inggris pada Piala Dunia mencetak dua gol paling berkesan sepanjang masa. Yakni satu dengan tangannya dan yang satunya lagi dengan kakinya.

“Sebagai pemain dia telah memberi kami segalanya. Saya kira tidak ada orang Argentina yang mengatakan dia tidak memberi segalanya kepada kami. Dia memberi kami gelar juara dunia dan memberi kami banyak hal sebagai pemain. Dia selalu bermain untuk jersey Argentina,” kata penduduk Buenos Aires Elsa Flores.

Di luar lapangan, Maradona penuh gairah dan kebablasan, pria mungil berselera besar. Dia tahu bagaimana membuat orang lain murka dan dia tak peduli apa yang dipikirkan orang. Namun, perilaku itu membuat dia dicintai sekaligus dibenci.

BACA JUGA:  Gemilang, Lingard Dongkrak Posisi West Ham

Dia dihormati di Napoli. 30 tahun setelah kiprahnya di sana, wajahnya tetap menghiasi tembok-tembok, papan iklan dan tempat-tempat suci.

Di Argentina dia diabadikan dalam berbagai lagu dan sebuah “gereja” virtual dengan 10 perintahnya sendiri. Yang berkisar dari memuja sang mantan playmaker yang nomor punggung 10-nya membuatnya dipanggil D10S. Panggilan tersebut adalah sebuah plesetan kata bahasa Spanyol yang berarti “Tuhan”.

“Maradona bukan sembarang manusia, dia manusia yang melekat di bola kulit. Aku tak peduli kekacauan yang dialami Maradona, dia sahabatku dan dia orang hebat,” kata penyanyi Argentina Calamaro dalam lagunya “Maradona”.

Maradona adalah pendukung perjuangan bangsanya Argentina. Termasuk dalam klaim kontroversial Argentina atas Malvinas, kepulauan yang oleh Inggris disebut Falklands yang terletak tepat di sebelah timur pantai Argentina.

Dia adalah sahabat dari pemimpin sayap kiri Amerika Latin, termasuk Fidel Castro dari Kuba dan Hugo Chavez dari Venezuela. Di Italia, dia berbicara atas nama kaum miskin di selatan negeri itu yang melawan kaum kaya di utara.

Dalam olahraga di mana kelembutan berlaku, Maradona bersedia mengutarakan isi hatinya. Rakyat Argentina menyukai dia karena mereka melihat bagian dari dirinya ada pada diri Maradona, mungkin lebih dari yang mereka akui.

Gairahnya yang berbahaya dan sering kali merusak adalah lambang dari apa artinya menjadi orang Argentina. Di mana curahan kegembiraan besar acap diikuti oleh rendungan mendalam yang melankolis.

Itulah yang mendorong ribuan warga Argentina turun ke jalan untuk berkabung pada Rabu (25/11). Mereka berkali-kali memaafkan Maradona sekalipun dia menyukai para otokrat dan diktator serta trauma berulang-ulangnya pada minuman, obat-obatan dan pasangan.

Maradona adalah personifikasi Argentina. Bukan hanya karena kecemerlangannya yang tak tertanding. Kelicikannya, kesukaannya dalam mengakali lawan dan kecurigaan mendalamnya terhadap otoritas menandai caranya bermain sepak bola.

Seperti ditulis seorang pengikut gereja di halaman Facebook kelompok “Gereja Maradon”, “Sepak bola sudah mati. Tak ada lagi yang bisa dikatakan. AD10”. (ara/fat)

  • Bagikan