Lezatnya Lentog Tanjung, Salah Satu Ikon Kuliner Kota Kretek

  • Bagikan
makanan khas Kudus lentog tanjung
KULINER: Seorang pedagang makanan khas Kudus lentog tanjung sedang menunggui dagangannya. (AHMAD RIFA’I/ LINGKAR JATENG)

Kudus tak henti-hentinya menyajikan beragam pesona, baik kepada penduduk asli maupun para pendatang. Selain terkenal dengan jenang dan Muria-nya, bermacam kuliner di Kota Kretek juga siap memanjakan lidah. Salah satu sajian khasnya yakni lentog tanjung—dan inilah yang dikunjungi Joglo Jateng.

Pagi itu suasana warung “Lentog Tanjung Pak Marwan” kurang ramai. Menurut Sulikah, istri sang pemilik, warung biasanya ramai pada pagi ketika baru buka. Sebab warga sekitar menjadikan makanan tersebut sebagai menu sarapan.

“Buka biasa pukul 6 sampai pukul 10 pagi, dan biasanya sudah habis duluan,” ujarnya, kemarin.

Sulikah bersama suaminya berjualan lentog tanjung sejak 1994. Awalnya, mereka berjualan keliling memakai pikulan. Kala itu harganya masih 150 rupiah. Saat ini, di warungnya yang terletak di Jalan Bakti, Kelurahan Barongan, Kudus, harga per porsi Rp5.000.

Satu porsi lentog tanjung berisi lontong, tahu, tempe rebus, telur rebus, kemudian disiram dengan sayur nangka dan diberi sambal. Uniknya, ia tidak langsung sajikan dalam piring saja. Sebelum isi dimasukkan, piring dikasih alas daun pisang terlebih dahulu. Alas daun pisang dibarengi sensasi sayur nangka dan sambal menjadi khas tersendiri. Inilah yang membedakannya dengan lontong di daerah lain.

BACA JUGA:  Masan Didaulat Ketua DPRD Sementara

“Lontong dan lentog itu sama. Hanya beda istilah karena daerahnya beda,” jelas Sulikah, sambil tersenyum. Soal nama “tanjung”, ia membeberkan sebab masakan itu berasal dari Desa tanjung, Kecamatan Jati.

Meski begitu, sebagian masyarakat mengatakan sesungguhnya “lentog” memiliki makna lain. Konon, dulu ada seorang wali bernama Mbah Sukesi yang hendak mendirikan padepokan, tetapi ia berhenti karena terganggu suara “tog tog tog” seperti orang sedang menanak nasi.

Mbah Sukesi yang marah bersabda siapa pun di daerah Tanjung takkan laris jika berjualan nasi. Akhirnya, penduduk sana menggunakan lontong sebagai pengganti. Dari sinilah nama lentog berasal, dari “tog tog tog” yang didengar sang wali.

Terlepas dari cerita tersebut, lentog tanjung kini telah jadi identitas Tanjung. Meski bumbunya terkesan sederhana, yakni bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, merica, laos, dan jahe. Ia tetap sedap disantap kapan pun. (cr5/abu)

  • Bagikan