Ruang Isolasi Terancam Penuh

  • Bagikan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr. Abdul Hakam
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr. Abdul Hakam. (HUMAS/ LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Peningkatan pasien Covid-19 berimbas pada penuhnya ruang perawatan yang telah disediakan. Dinas Kesehatan Kota Semarang mengkonfirmasi bahwa ruang perawatan pasien Covid-19 baik di rumah sakit maupun di rumah dinas wali kota mendekati penuh.

Kepala Dinas Kesehatan Muhammad Abdul Hakam menduga tingginya kasus positif  Covid-19 di kota Semarang disebabkan oleh kelalaian masyarakat dalam menaati protokol kesehatan. “Padahal kita tahu bahwa dengan penerapan protokol kesehatan adalah cara gratis untuk terhindar dari Covid-19,” katanya, Rabu (2/12).

Hakam merinci dalam beberapa hari terakhir, ada empat kecamatan yang penerapan protokol kesehatannya mulai menurun, sehingga menyebabkan tingginya kasus Covid-19. Empat kecamatan tersebut yaitu, Semarang Barat, Pedurungan, Banyumanik dan Tembalang.

“Di wilayah itu sekarang penerapan protokol kesehatannya hanya 60 hingga 70 persen saja. Padahal biasanya lebih dari itu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tingginya kasus positif tersebut mayoritas berasal dari klaster keluarga dan klaster perusahaan. Ia membeberkan, seorang anggota keluarga yang memiliki mobilitas tinggi rentan terhadap Covid-19 hingga akhirnya menularkan kepada anggota keluarga lainnya.

BACA JUGA:  Covid-19 Jadi Bencana Nasional, Ini Perintah Presiden ke Kepala Daerah

Sementara itu, mulai dibukanya perusahaan juga disinyalir menjadi salah satu sebab tingginya kasus Covid-19. Salah satu perusahaan yang memiliki angka positif tertinggi berada di Kecamatan Semarang Barat. Di perusahaan tersebut, yang terkonfirmasi positif mencapai 100 orang.

Hal itulah yang kemudian menyebabkan kapasitas ruang perawatan baik di rumah sakit maupun di rumah dinas wali kota hampir penuh. Di rumah dinas jumlah pasien hampir penuh, dengan okupansi sekitar 95 persen.

Hakam mengaku telah meminta sejumlah rumah sakit untuk menambah kamar tidur isolasi non-ICU dan ruang ICU. Hal itu dilakukan untuk antisipasi menambahnya pasien Covid-19.

“Beberapa rumah sakit sudah kami minta menambah kamar untuk mengantisipasi hal ini. Balai Diklat nantinya akan kita pakai lagi, karena okupansi di rumah dinas sudah mencapai 95 persen dan ini harus fast moving,” pungkasnya. (cr2/gih)

  • Bagikan