Asuransi Tani belum Berjalan Baik

  • Bagikan
Puluhan hektar sawah siap panen tenggelam direndam banjir di Desa Tondomulyo Jakenan
TENGGELAM: Puluhan hektar sawah siap panen tenggelam direndam banjir di Desa Tondomulyo Jakenan. (ACHWAN / LINGKAR JATENG)

PATI – Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) belum berjalan baik di Kabupaten Pati. Hal itu disebabkan rendahnya petani untuk mendaftarkan dirinya pada asuransi resmi pemerintah ini. Mayoritas petani masih merasa aman sebab lahan pertaniannya berda di zona aman bencana. Sebagian lagi menganggap premi asuransi menambah pengeluaran.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Pangan dan Holtikultura (TPH), Kun Saptono menyatakan, program AUTP bertujuan agar petani mendapata perlindungan dan anti rugi jika mengalama kegagalan panen sebab bencana atau hama penyakit.

“Minat mendaftar belum tinggi, saya rasa masih merasa belum perlu menjaminkan pertaniannya sebab merasa aman,” terangnya di Pati, Selasa (16/2).

Ia menyebut petani masih menganggap pendaftaran AUTP memerlukan proses yang berbelit-belit dan panjang. Padahal, imbuh Saptono, persyaratannya cukup mudah dan bisa dibantu oleh penyuluh pertanian setempat. “Syarat utamanya harus terdaftar di Poktan. Kemudian Poktan mendaftar ke PPL yang akan diteruskan kepada perusahaan asuransi. Nanti akan ada verifikasi teknis,” jelasnya.

Ia menerangkan, sebenarnya premi AUTP cukup ringan, yakni hanya Rp 36 ribu per hektare sawah untuk asuransi senilai Rp6 Juta. Maka menurutnya, alasan mahal bukanlah sesuatu yang masuk akal. Pasalnya, dengan jaminan asuransi dan klaim yang sesuai ketentuan petani akan lebih terlindugi.

BACA JUGA:  Gelar Simulasi Pemadaman Kebakaran Kapal

“Untuk melindungi petani dari ancaman gagal panen seperti banjir, kekeringan, dan serangan hama,” tegasnya.

Saptono melanjutkan, proses mengurus klaim juga diterbitkan secara jelas. Yakni laporan ke pihak asuransi dengan sejumlah syarat yang terverifikasi. “Umur padi harus sudah melewati 10 hari masa tanam, mengisi form kemudian ada berita acara sebagai bukti pemeriksaan lapangan. Lalu asuransi bisa cair. Cukup mudah,” tambahnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Pati mencatat jumlah desa yang terdampak banjir mencapai 42 desa yang tersebar dengan ketinggian genangan bervariasi. Dilaporkan juga sebanyak 680 hektare sawah di 6 Kecamatan mengalami gagal panen akibat direndam air selama dua pekan. Sebagian besar merupakan tanaman padi siap panen. (cr4/abu)

  • Bagikan