Pembongkaran Rumah Cebolok Ricuh

  • Bagikan
Ekskavator melakukan pembongkaran rumah warga Cebolok, Semarang
RUBUH: Ekskavator melakukan pembongkaran rumah warga Cebolok, Semarang, Kamis (18/2). (NANANG / LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Pembongkaran ratusan rumah warga di wilayah Cebolok, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, berlangsung ricuh. Aparat gabungan Satpol PP, TNI, dan Polri terlibat bentrok dengan warga setempat yang menolak pembongkaran, Kamis (18/2).

Pelaksanaan pembongkaran terjadi pada pukul 08.00-11.00, aparat masuk ke permukiman warga dan membongkar 134 rumah warga dengan menggunakan empat alat berat. Ketika pembongkaran berlangsung, beberapa warga berusaha menghadang aparat dengan membentuk barisan sembari memegang bendera merah putih.

Meski telah melakukan blokade, hal itu tidak cukup untuk mencegah aparat berhenti melakukan pembongkaran. Sayangnya, upaya yang dilakukan oleh warga dapat dipatahkan oleh aparat. Beberapa warga yang diduga provokator diamankan petugas untuk meredakan situasi. Warga lainnya yang tidak terlibat kericuhan terlihat pasrah ketika ekskavator aparat membongkar rumah mereka.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto menyampaikan, proses itu adalah kelanjutan dari penyegelan pada Jumat 15 Januari 2021 lalu. Kemudian rencanan penggusuran yang seharusnya terlaksana pada Selasa 9 Februari 2021 tertunda dan baru dilaksanakan kemarin (18/02).

Ia pun menyayangkan kericuhan yang terjadi saat pembongkaran berlangsung. Baginya, aparat hanya menjalankan tugas sesuai tupoksinya. Ia juga menyarankan kepada warga untuk mengajukan keberatan ke pengadilan jika memiliki bukti bahwa tempat yang ditinggalinya adalah milik pribadi.

“Kalau warga memiliki bukti yang sah silakan datang ke pengadilan, kalau berbicara kasihan semua juga kasihan. Kami hanya bertugas menjalankan perda dan melindungi tanah milik orang,” kata Fajar usai melakukan pembongkaran.

BACA JUGA:  Langgar Aturan, Kafe Disegel

Fajar menekankan bahwa warga telah diberi tali asih dan ganti rugi serta sudah ada rekom segel dan rekom bongkar. Menurutnya, ia hanya fokus pada kepastian hukum atas kepemilikan tanah karena polemik tanah itu bukan kewenangan Satpol PP.

“Saya pastikan selama menjadi Kepala Satpol PP, jika ada tanah perorangan yang dipakai orang lain dan sudah ada rekom dari distaru pasti saya bongkar,” tegasnya.

Ia menambahkan, pihaknya telah mengingatkan warga sebelum melakukan pembongkaran. Dan jika terjadi kericuhan, ia menegaskan akan tetap berpedoman pada status hukum yang ada. “Sudah rapat sebanyak lima kali dan bertemu pak sekda, serta pemberian tali asih,” ujarnya.

Sementara itu, Nur Hasyim salah satu warga Cebolok berharap agar pemerintah bisa membantu warga Cebolok dengan memberikan perlindungan dan kelangsungan hidup. Menurutnya, pemerintah berkewajiban atas hal itu karena semua warga yang digusur merupakan warga Semarang yang berhak mendapatkan kehidupan yang layak.

“Saya tidak punya saudara di sini dan gak tau harus tinggal di mana lagi, mohon kita ini dibantu. Kami berharap besar kepada pemerintah kota,” ungkapnya.

Ia mengaku tak memiliki kuasa jika diminta untuk menggugat ke pengadilan. Ia hanya mampu berharap pemerintah mendengar suara warga yang tergusur rumahnya. “Kalau ke pengadilan itu kan perlu nyewa pengacara juga, ya kami mana ada uang untuk itu,” tandasnya. (cr2/gih)

  • Bagikan