Sudah Sebulan, Masih Terendam Banjir

  • Bagikan
Banjir
TERGENANG: Anak-anak terlihat bermain di Dukuh Ngepreh, Sayung yang masih terendam banjir kurang lebih selama satu bulan ini, Senin (1/3). (AJI YOGA / LINGKAR JATENG)

DEMAK – Derasnya hujan selama beberapa minggu terakhir ini, ternyata masih menyisahkan kisah pilu bagi beberapa warga di Sayung. Di antaranya adalah Dukuh Ngepreh dan Dukuh Lengkong, Desa Sayung, Kecamatan Sayung yang sudah kira-kira sebulan ini masih terendam banjir.

Berdasarkan pantauan di lapangan kemarin (1/3), titik terdalam air yang menggenangi dua dukuh tersebut setinggi paha orang dewasa. Untungnya, posisi rumah di Dukuh Lengkong dan Ngepreh yang lebih tinggi dari pada jalanan membuat rendaman air di rumah-rumah warga lebih rendah.

Salah satu warga Dukuh Ngepreh, Suwarni (37) mengatakan, selama satu bulan ini air terkadang surut namun kemudian naik kembali. Hal ini terjadi berulang-ulang apabila turun hujan. Beberapa barang rumah tangga basah dan ada yang hanyut terbawa air. Untungnya, barang-barang elektronik bisa diselamatkan, sehingga tidak membahayakan.

Alhamdulillah barang elektronik bisa diselamatkan. Jika tidak kan bahaya, saya atau orang lain bisa tersetrum saat menyentuh genangan air,” tuturnya, kemarin.

Ia mengaku, selama satu bulan ini, dirinya dan keluarga mengungsi di rumah mertua yang kondisi datarannya lebih tinggi. Pada saat ini tidak ada tempat pengungsian untuk warga yang terendam banjir. Menurutnya, warga lebih memilih tinggal di rumah daripada mengungsi ke tempat yang lain.

Suwarni juga mengatakan, akibat banjir yang tidak surut-surut, banyak warga yang terkena penyakit, khususnya penyakit kulit. Selain itu, bantuan yang datang ke dukuhnya tersebut terakhir yang ia ingat adalah saat Menteri Sosial Tri Rismaharini mengunjungi Desa Sayung.

BACA JUGA:  Sambut HUT Demak, Ratusan Reklame Liar Ditertibkan

“Setahu saya bantuan yang datang, ada dari partai dan komunitas. Kalau dari pemerintah yang terakhir waktu Bu Risma ke sini, cuma mungkin saya tidak tahu juga, karena tidak menerima selain itu sih,” katanya.

Sementara warga Dukuh Lengkong, Amin (40) mengungkapkan, hujan dan kiriman air dari Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen menyebabkan banjir di wilayah ini. Banjir sudah menjadi langganan bagi warga. Namun, biasanya air tidak menggenang terlalu tinggi dan tidak selama ini.

“Biasanya cuma setinggi mata kaki dan paling seminggu sudah surut. Ini sampai sepaha dan sebulan belum surut juga,” tuturnya.

Ia menambahkan, sebenarnya genangan air pernah surut, tetapi hanya sebentar. Setelah itu hujan lagi dan genangan air kembali meninggi. “Tidak ada posko pengungsian. Dulu sempat ada. Namun, setelah surut pasko ditiadakan. Eh, ternyata malah banjir lagi,” ujarnya.

Amin berharap adanya langkah solutif dari pemerintah. Baik tingkat kabupaten, provinsi atau pusat terkait keadaan dukuhnya tersebut. Ada solusi jangka panjang, agar daerahnya tidak lagi menjadi langganan banjir, apalagi sampai satu bulan seperti sekarang ini. (cr3/gih)

  • Bagikan