Santunan Covid Terancam Batal

  • Bagikan
Kantor Dinas Sosial Kota Semarang
SENGGANG: Warga sedang menunggu pelayanan pada jam istirahat di Kantor Dinas Sosial Kota Semarang, Selasa (2/3). (NANANG / LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Penghentian kebijakan santunan bantuan bagi ahli waris korban meninggal akibat Covid-19 oleh Kementerian Sosial (Kemensos) RI menyisakan polemik di akar rumput. Dinas Sosial Kota Semarang juga ikut menghentikan pendaftaran pengajuan bantuan tersebut.

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Muthohar menyampaikan bahwa pemberhentian pengajuan pendaftaran bantuan tersebut dilakukan menyusul keluarnya surat edaran dari Kementrian Sosial yang menghentikan pemberian santunan bantuan kepada ahli waris korban Covid-19. Dalam surat edaran tersebut, anggaran untuk santunan bantuan ahli waris korban Covid-19 tidak masuk dalam APBN 2021.

Ia menjelaskan, dalam aturan sebelumnya disebutkan bahwa Kemensos akan memberikan bantuan santunan bagi ahli waris yang keluarganya meninggal dunia akibat Covid-19 dari Kemensos berupa dana sebesar Rp 15 juta per ahli waris. Di Semarang sendiri, lanjutnya, tercatat sebanyak 584 ahli waris telah mengajukan bantuan santunan meninggal karena Covid-19 ke kantor Dinsos.

“Pendaftaran sudah kami tutup sekitar seminggu yang lalu. Hingga penutupan, yang mendaftar cukup banyak, sekitar 584 ahli waris,” kata Muthohar, Selasa (2/3).

Ia mengaku telah menyampaikan data tersebut kepada Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah untuk diteruskan kepada Kementrian Sosial. Ia juga menekankan bahwa dari semua data yang masuk itu, sejauh ini belum ada satu orang ahli waris pun yang mendapatkan santunan dari Kemensos. Sementara di daerah lain, sudah ada beberapa ahli waris mendapatkan bantuan tersebut.

Rencananya, dinas sosial kabupaten/kota se-Jawa Tengah akan berkumpul untuk mendiskusikan mengenai pembatalan santunan ahli waris meninggal Covid-19. Mengingat, banyak masyarakat yang mengadu pembatalan ini kepada dinas sosial.

BACA JUGA:  Projek Percontohan, 3 Puskesos Dibiayai APBN

“Ada inisiatif dari teman-teman (dinas sosial) mau kumpul, akan menyampaikan surat kepada Mensos. Solo Raya kemarin kabarnya sudah kumpul,” jelasnya.

Ia berharap, santunan bagi ahli waris Covid-19 bisa dipertimbangkan karena warga telah mengajukan dan mengurus sejumlah persyaratan. Menurutnya, hal itu membutuhkan waktu dan biaya yang cukup banyak.

Sementara itu, seorang ahli waris pasien Covid-19 di Kota Semarang, Dina Yunita mengatakan bahwa ia telah mengajukan persyaratan pengajuan bantuan tersebut sejak September lalu. Hingga kini, memang belum ada kejelasan informasi dari pemerintah mengenai santunan kematian bagi ahli waris pasien Covid-19.

Saat mengurus persyaratan, ia mengaku menghabiskan waktu sekitar satu bulan. Salah satu syarat pengajuannya adalah mengurus surat ahli waris dengan tandatangan seluruh ahli waris. Sementara tidak semua ahli waris tinggal di wilayah yang sama.

“Bapakku meninggal karena Covid-19. Ada tiga ahli waris. Ibu, saya, dan adik saya. Surat ahli waris harus ditandatangani oleh seluruh ahli waris. Sedangkan, adik saya tidak tinggal di Semarang. Tentu itu butuh waktu dan biaya untuk mengurusnya,” kata Dina.

Ia juga mengaku belum mendapat informasi mengenai pembatalan santunan tersebut. Saat mengetahui santunan dibatalkan, ia merasa sedih dan kecewa atas kebijakan yang ada. “Sedih, kecewa. Sudah berharap, sudah susah payah mengurus persyaratan, ternyata dibatalkan,” ujarnya. (cr2/gih)

  • Bagikan