Waspada 9 Titik Rawan Longsor

  • Bagikan
Bencana longsor di Bukit Manyaran Permai Blok T RT 1 RW 5, Kota Semarang
RUSAK: Bencana longsor di Bukit Manyaran Permai Blok T RT 1 RW 5, Kota Semarang belum lama ini. (ISTIMEWA / LINGKAR JATENG)

SEMARANG –  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang memetakan 9 titik kecamatan yang rawan terjadi bencana longsor. 9 titik tersebut yakni,  Kecamatan Gajahmungkur, Gunungpati, Tembalang, Semarang Barat, Ngaliyan, Candisari, Tugu, Semarang Selatan, dan Banyumanik.

”Kita sudah memetakan tanah longsor yang memang tersebar di wilayah atas. Seperti Kecamatan Gajahmungkur itu Kelurahan Lempongsari dan Petompon, Kecamatan Gunungpati ada di Sadeng dan Sekaran, Kecamatan Candisari ada di Jomblang, Wonotingal, Jatingaleh, Tegal Sari dan Karanganyar Gunung,” Jelas Sekretaris BPBD Winarsono, Rabu (3/3).

Lebih lanjut Winarsono juga memetakan wilayah tanah bergerak yang ada di Kota Semarang. Seperti di Kecamatan Gunungpati yakni wilayah Sukorejo, Sadeng dan Trangkil, serta Kecamatan Ngaliyan yakni wilayah Babankerep.

“Kita juga terus siagakan posko 24 jam di puncak musim hujan ini. Sekaligus kita juga menindaklanjuti laporan-laporan kejadian bencana di lapangan. Termasuk peringatan melalui Early Warning System (EWS) dan Kelurahan Siaga Bencana (KSB) yang sudah tersebar di beberapa wilayah rawan bencana,” ungkapnya.

Winarsono menambahkan, pihaknya juga terus memberikan imbauannya kepada masyarakat Kota Semarang khususnya yang berada di titik rawan bencana. Yakni, agar meningkatkan kewaspadaan di puncak musim hujan kali ini.

BACA JUGA:  Warga Menduga Longsor karena Proyek Perumahan

Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Joko Santoso mendorong agar ada pemetaan sifat tanah, untuk meminimalisir resiko bencana tanah longsor. Ia meminta agar ada evaluasi terkait peta zonasi risiko rawan bencana, khususnya di wilayah atas Kota Semarang yang rawan tanah bergerak, serta wilayah bawah yang rawan terjadi penurunan tanah.

”Sebaiknya Pemerintah Kota Semarang segera memetakan sifat tanah di Kota Semarang. Jadi pada dasarnya ada beberapa sifat tanah, yakni tanah bergerak di Semarang atas dan penurunan tanah di Semarang bawah,” jelasnya.

Politisi Partai Gerindra itu menjelaskan pemetaan sifat tanah memang mendesak dilakukan, agar daerah yang rawan tanah longsor tidak digunakan untuk tempat tinggal. Seperti yang terjadi di Perumahan Bukit Manyaran Permai Kecamatan Gunungpati.

Menurutnya, tanah dengan sifat labil sebaiknya dipergunakan untuk perkebunan, atau lahan terbuka hijau agar penyerapan air ke tahan bisa lebih optimal. “Ini adalah salah satu bentuk evaluasi yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang terkait tata ruang wilayah. Karena kalau kita lihat daerah daerah yang labil, atau yang tanahnya bergerak, jangan sampai dijadikan tempat tinggal atau perumahan atau kegiatan masyarakat,” tegasnya. (git/gih)

  • Bagikan