Meski Dusun Kena Abrasi, Makam tak Tenggelam

  • Bagikan
Makam Syekh Mudzakir
UNIK: Makam Syekh Mudzakir di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Sayung, Kamis (4/3). (AJI YOGA / LINGKAR JATENG)

DEMAK – Kabupaten Demak kental akan sejarah penyiaran Islam. Satu dari 35 kabupaten di Jawa Tengah itu dijuluki sebagai Kota Wali karena kaya jejak peninggalan walisongo. Selain terkenal dengan Makam Sunan Kalijaga, terdapat sederet makam-makam masyhur di Demak. Salah satunya adalah Makam Syekh Abdullah Mudzakkir.

Saat menyusuri Pantai Morosari di Desa Bedono, Sayung, Makam Syekh Abdullah Mudzakir atau yang akrab dipanggil Mbah Mudzakir akan kita jumpai. Makam tersebut seolah-olah terapung di tengah lautan.

Ahli sejarah dan kebudayaan, sekaligus Plh Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Kabupaten Demak, Ahmad Widodo menjelaskan, dahulu makam tersebut sebetulnya ada di tengah-tengah pemukiman penduduk. Namun, sejak tahun 1990, pemukiman penduduk di Dusun Tambaksari, Bedono tersebut mulai terkikis akibat abrasi laut utara. Semakin tahun, abrasi semakin meluas dan menelan pemukiman penduduk.

Uniknya meski wilayah daratan di dusun tersebut telah habis dan tenggelam, makam Mbah Mudzakir masih tetap bertahan dan utuh. Disertai air pasang maupun ombak besar yang pasti ada setiap tahunnya, makam tak pernah tenggelam.

“Cerita yang berkembang di tengah masyarakat, tidak tenggelamnya makam Mbah Mudzakir karena karomah yang dimilikinya. Keluhuran budi Mbah Mudzakkir semasa hidupnya melakukan syiar agama di wilayah tersebut. Ia sangat berjasa dalam pembangunan akhlak warga setempat, baik dalam hal ilmu agama maupun tradisi yang diajarkan,” ungkap Widodo saat di temui di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Demak, Kamis (4/3).

BACA JUGA:  Cegah Korupsi lewat Transaksi Elektronik

Ia menjelaskan, Mbah Mudzakir juga dikenal sebagai sosok pejuang kemerdekaan era 1900-1950. Mbah Mudzakir vokal melawan penjajah sekaligus gencar melakukan syiar ajaran agama. Salah satu murid Kiai Sholeh Darat itu terkenal sebagai orang yang gemar menolong orang lain tanpa imbalan apa pun. Kharisma Mbah Mudzakir inilah yang membuat para peziarah berdatangan.

“Sebelum pandemi dan rusaknya akses jalan menuju makam, setiap hari banyak peziarah yang datang. Paling ramai saat idul fitri dan puncaknya saat peringatan haul,” katanya.

Selain ziarah Makam Syekh Mudzakir, di sekitar makam terdapat kawasan magrove sebagai pemandangan yang indah dilihat. Begitu juga sunset saat sore hari menambah keindahan pemandangan sekitar makam. Pengunjung cukup merogoh saku 10 ribu saja untuk ojek perahu. (cr3/gih)

  • Bagikan