28.938 Jiwa Terdampak Bencana di Kudus pada Februari

  • Bagikan
Relawan BPBD
EVAKUASI: Relawan BPBD saat melakukan evakuasi kepada korban banjir di salah satu desa di Kabupaten Kudus pada Februari lalu. (SYAMSUL HADI / LINGKAR JATENG)

KUDUS – Berdasarkan hasil dari assessment yang dilakukan pada saat kejadian, total ada sebanyak 62 kebencanaan menimpa Kabupaten Kudus pada Februari lalu. Bencana tersebut antara lain banjir, tanah longsor, kebakaran, dan pohon tumbang, serta kedaruratan lainnya.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Budi Waluyo mengatakan, dari total 62 kejadian di Februari tersebut mayoritas bencana disebabkan oleh intensitas hujan yang cukup tinggi. Sehingga mengakibatkan 8.990 Kartu Keluarga (KK) terdampak.

“Kejadian-kejadian itu dikarenakan intensitas hujan yang melanda Kota Kudus pada Februari cukup tinggi. Ada total sekitar 28.938 jiwa terdampak akibat bencana yang terjadi di beberapa wilayah Kota Kretek,” ucapnya (9/3).

Selain itu, kerugian yang dialami karena adanya bencana yakni kurang lebih sebesar Rp 358.800.000. Perkiraan tersebut berdasarkan perhitungan kerugian pada saat terjadinya bencana di Kabupaten Kudus oleh pihaknya.

Budi merincikan, dari total 62 kejadian di Februari yakni 20 kejadian banjir limpasan, 22 titik tanah longsor, tiga kebakaran, dan 13 angin kencang. Lalu 11 titik pohon tumbang, satu pencarian korban tenggelam, 11 evakuasi sarang tawon, satu evakuasi ODGJ, serta empat kedaruratan lainnya.

BACA JUGA:  Pemkab Kudus Raih Penghargaan STBM Berkelanjutan Award 2020

“Kami mengimbau kepada masyarakat agar dapat melakukan pencegahan dan mitigasi bersama. Sekaligus bekerja sama dengan pemerintah agar sinergi bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Imbauan diberikan pihaknya kepada masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan longsor dan banjir. Supaya dapat mengantisipasi kejadian di wilayahnya sendiri dengan bekerja sama.

“Selain itu, Kudus ini kan termasuk kota yang banyak pepohonan, jadi masyarakat juga harus waspada pada saat angin kencang. Jangan sampai berteduh atau berada di pepohonan yang rindang, mengantisipasi kejadian robohnya pohon,” pungkasnya.

Pihaknya juga mengharapkan, agar masyarakat dan pemerintah bisa bekerja sama untuk mengantisipasi adanya kejadian di masing-masing wilayah rawan bencana. “Agar koordinasi dan sebagainya bisa berjalan,” imbuhnya. (sam/fat)

  • Bagikan