BPSDMD Jateng Gembleng 60 Calon Pemimpin Perubahan Indonesia

  • Bagikan
Pelatihan Kepemimpinan Nasional
SEMANGAT: Sebagian peserta melakukan foto bersama usai pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Nasional yang diadakan oleh BPSDMD Jateng di Gedung Sasana Widya Praja, Senin (15/3). (NANANG / JOGLO JATENG)

SEMARANG – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Jawa Tengah (BPSDMD Jateng) menyelenggarakan pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Tahun 2021 di Gedung Sasana Widya Praja, Senin (15/3). Pembukaan tersebut diikuti oleh 60 peserta pelatihan yang berasal dari berbagai instansi pemerintahan se-Indonesia.

Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Manajerial BPSDMD Jateng, Andi Suryanto mengatakan bahwa peserta pembukaan pelatihan tersebut terdiri dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) provinsi kab/kota se-Jateng, perwakilan instansi pemerintah luar daerah, dan perwakilan dari kementrerian/lembaga pusat.

“Dari luar daerah itu ada perwakilan dari Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Jogjapusat.Jawa Barat, Papua dan beberapadaerah di Indonesia. Kalau dari kementerian pusat ada dari kejaksaan, BIN, sama KPU,” kata Andi saat ditemui usai pembukaan.

Selama tujuh hari kedepan, lanjutnya, peserta pelatihan akan digembleng secara tatap muka di Kampus Pendidikan Muria, Kompleks Perkantoran BPSDMD Jateng. Setelah itu, peserta akan dipulangkan ke daerah masing-masing untuk mengikuti pelatihan secara virtual hingga menjelang penutupan pada akhir Juni.

“Sekarang disini, setelah itu offcampus, lalu distancelearning, lalu merancang inovasi perubahan, selanjutnya aktualisasi kepemimpinan selama 60 hari di tempat kerja masing-masing, dan terakhir hasil dari semuanya itu akan diseminarkan di kegiatan penutupan selama 5 hari di akhir Juni nanti. Total semuanya memakan waktu kurang lebih 101 hari,” paparnya.

BACA JUGA:  Tim Voli Jateng Ditarget Lolos PON 2020

Sementara itu, Kepala BPSDMD Jateng, M. Arief Irwanto menyampaikan bahwa pada pelatihan kepemimpinan tahun ini pihaknya menggunakan metode blendeddimana pertemuan fisik hanya diadakan selama 7 hari di awal dan 5 hari di akhir. Diluar itu, peserta akan menjalani pelatihan secara virtual serta mengoptimalisasi aktualisasi kepemimpinan untuk inovasi di kantor masing-masing.

“Pelatihan ini harusnya clasical, tapi karena kita mematuhi peraturan yang ada, maka acara pelatihan ini dibuat model blended. Itupun kami menggunakan protokol kesehatan yang sangat ketat. Semua peserta sebelum masuk kesini harus swab dulu. Kalau keluar ya swab lagi. Tidak hanya peserta, penyelenggara juga gitu, saya juga gitu,” ungkapnya.

Ia menargetkan kepada seluruh peserta yang mengikuti pelatihan tersebut untuk menghasilkan inovasi dan terobosan baru di instansi asal. Hal itu dilakukan karena kelulusan peserta nantinya akan ditentukan dari terobosan dan inovasi yang berhasil dibuat di masing-masing instansinya. (cr2/gih)

  • Bagikan