Kasus Pernikahan Anak Usia Dini Terus Naik

  • Bagikan
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang Mukhamad Khadik
RESPON : Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang Mukhamad Khadik merespon kasus pernikahan anak usia dini yang terus naik, belum lama ini. (HUMAS / LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Angka kasus pernikahan anak usia dini di kota Semarang mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Setiap tahunnya, tercatat ada 217 kasus pernikahan anak usia dini yang terjadi di Semarang.

Data dari Pengadilan Agama di Kota Semarang mencatat, kasus Pernikahan Usia Anak di Semarang mengalami tren naik. Pada tahun 2017 terjadi sebanyak 57 kejadian, pada 2018 naik menjadi 64 kejadian, tahun 2019 terjadi 105 kejadian.

Data hingga Juli 2020 menjadi angka kejadian tertinggi mencapai 217 kasus. Dari 16 kecamatan di Kota Semarang, Kecamatan Gunungpati dan Kecamatan Ngaliyan jadi wilayah dengan angka pernikahan dini yang cukup tinggi mencapai 27 dan 25 anak. Berbanding terbalik dengan  Kecamatan Semarang Timur yang justru tidak ada kasus atau zero pernikahan dini.

“Ini membuktikan kalau angka pernikahan dini di kota Semarang terus mengalami peningkatan apalagi di tengah pandemi seperti saat ini,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang Mukhamad Khadik, belum lama ini.

BACA JUGA:  Angka Perceraian Meningkat Selama Masa Pandemi

Khadik menduga, pandemi turut menjadi penyebab atas kondisi tersebut. Menurutnya, banyak perubahan pola hidup dimana masyarakat harus kerja dari rumah, anak pun bersekolah dari rumah dan tidak bisa beraktivitas bebas seperti sebelum pandemi.

“Situasi ekonomi yang makin sulit membuat banyak orang tua harus mencurahkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk mencari nafkah.  Konsekuensi dari situasi itu salah satunya adalah menurunnya kualitas dan kuantitas kepengasuhan anak,” ujarnya.

Sementara itu, Budi Satmoko Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3A Kota Semarang menambahkan, tren permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama juga cenderung mengalami kenaikan. Menurutnya, kondisi perekonomian keluarga yang lemah serta kurangnya wawasan orang tua juga jadi faktor tingginya angka pernikahan dini.

“Ada pula faktor eksternal yang mempengaruhi seperti norma sosial dan budaya lokal dan kenaikan kesadaran hukum bagi masyarakat,” kata Budi. (hms/git)

 

  • Bagikan