Sempat Jadi Primadona, Empon-empon Sepi Pembeli

  • Bagikan
penjual jamu empon-empon di Pasar Buah dan Sayur Pemalang
SEMPAT DIBURU: Lapak penjual jamu empon-empon di Pasar Buah dan Sayur Pemalang sepi pembeli walaupun harga telah turun, Senin (5/4). (UFAN FAUDHIL / LINGKAR JATENG)

PEMALANGPada awal penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia, jamu empon-empon sempat menjadi primadona yang banyak diburu oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan jahe, kunir dan temulawak mengalami kenaikan harga sampai 100 persen. Namun sekarang bahan-bahan tersebut sudah tidak menjadi buruan dan sepi pembeli walaupun harganya sudah turun.

Turah yang berprofesi sebagai pedagang rempah-rempah atau lebih dikenal dengan istilah “ambrangan” oleh masyarakat Kabupaten Pemalang saat ini harganya sudah tidak mencapai 100 peresen atau 150 persen. Saat ini, meski harga sudah stabil, barang dagangannya tidak lagi diburu pembeli.

“Kemarin (tahun 2020), saya sampai kualahan juga kehabisan stok jahe terutama jahe emprit dan merah yang paling diburu oleh pembeli, sampai luar daerah banyak pemesan alhasil jadi barang harganya naik semua,” katanya Senin (5/4).

Ia juga menjelaskan kemungkinan masyarakat mulai tidak suka karena rasa yang kurang enak karena memang jamu sendiri memiliki rasa yang khas yaitu pahit dan biasanya ada rasa getir yang menempel di mulut. Walaupun sebenarnya ada pengolahan lain yang bisa membuat rasa pahit dan getir yang ada dinetralisir menjadi lebih enak diminum.

BACA JUGA:  Desa Lodaya di Pemalang Menerima Asistensi dari Polda Jawa Tengah

Hal serupa juga dikatakan oleh Tukiman, yang menuturkan harga bahan baku sangat berbeda. Ia menjelaskan harga jahe merah dan emprit pada awal pandemi lalu mencapai Rp60.000 sampai Rp70.000 per kilo namun sekarang turun Rp30.000 sampai Rp40.000 per kilo.

“Tadi itu ada orang mengembalikan jamu yang kemarin dititipkan, ya karena tidak laku sepi pembeli jadi dikembalikan. Beginilah sudah beberapa hari bahkan dibelakang itu bertumpuk kunir dan jahe yang belum laku,” keluhnya.

Sebagai orang yang sempat membeli empon-empon, Turinah mengungkapkan memang saat awal pandemi dirinya juga mengikuti membeli jamu meski harganya tinggi. Bahkan ia mengirim jamu itu ke suaminya yang di Jakarta karena memang di sana waktu itu sedang dicari dan harga lebih mahal dari pada di daerah.(cr8/akh)

  • Bagikan