Atasi Kekurangan Air dengan Kembalikan Fungsi Hutan

  • Bagikan
Ketua pegiat lingkungan Saba Wana, Eka Waluyo
UPAYA SUKSES: Ketua pegiat lingkungan Saba Wana, Eka Waluyo sedang membawa piala penghargaan atas jeri payah Bersama kelompoknya dalam mengatasi kekurangan air. (AFIFUDIN / LINGKAR JATENG)

PEMALANG – Kekurangan air menjadi masalah yang sering terjadi tiap tahunnya di Kecamatan Belik. Hal ini menjadikan kelompok pegiat lingkungan Saba Wana tergugah untuk melakukan konservasi lingkungan guna mengembalikan fungsi hutan sekaligus mengembangkan sektor wisata.

Ketua Saba Wana, Eka Waluyo menjelaskan, permasalahan kelangkaan air disebabkan sumber mata air yang tidak terawat. Dikatakan, proses konservasi tersebut ia lakukan secara mandiri, sehingga baik pengadaan bibit tanaman hingga proses penanamannya dilakukannya sendiri bersama kelompok tersebut.

“Akhirnya kita buat perjanjian dengan Perhutani, minta ijin pengelolaan, setelah itu bagaimana kita menata dan memperbaiki sumber mata air dengan benar, dengan tanaman resapan yang ada,” katanya beberapa waktu lalu.

Kegiatan yang dilakukannya berhasil menarik perhatian pegiat lingkungan dari berbagai daerah di Pemalang bahkan Kota Tegal mengambil bibit pohon darinya. Setelah penanaman dilakukan, pihaknya terus melakukan monitoring setiap tiga bulan sekali. Ia kerap menjumpai banyak tanaman yang hilang karena diambil oleh oknum manusia.

“Lewat konsep mengembalikan fungsi hutan melalui sektor wisata ini, akhirnya lahirlah wisata taman Rancah. Dinamakan taman Rancah, karena sumber mata air disini bernama Rancah,” lanjutnya.

BACA JUGA:  Satpol PP Pemalang Lakukan Monitoring Hiburan Malam

Atas usaha dan jerih payahnya, Eka beserta teman pegiat lingkungan Saba Wana sempat mendapatkan prestasi juara satu lomba penghijauan dan konservasi lingkungan pada tahun 2010 dan Juara 1 Lomba anugerah pesona Indonesia pada tahun 2019 lalu. Ia juga berharap, pemerintah setempat bisa lebih serius untuk ikut serta dalam penyelesaian masalah kekurangan air di beberapa daerah, khususnya Pemalang bagian selatan.

“Memang ada pasokan air dari pemerintah saat kemarau, cuman kendalanya bukan di situ, tapi pada sumber mata air. Kami tetap berterimakasih, tapi kalau hanya seperti itu ibarat kita sakit kita dikasih obat tidur, bangun ya sakit lagi,” tegasnya.(cr1/akh)

  • Bagikan