Lakukan Inovasi untuk Tambah Kader Baru

  • Bagikan
Kordinator Program TBC MSI Kabupaten Pati, Muhammad Yasir Alimron
PAPARKAN: Kordinator Program TBC MSI Kabupaten Pati, Muhammad Yasir Alimron saat memberikan pemaparan terkait screening pasien TBC (Tuberkulosis), belum lama ini. (MUHAMMAD FATHONI / LINGKAR JATENG)

PATI – Guna kembali meningkatkan screening pasien TBC (Tuberkulosis), Mentari Sehat Indonesia mengadakan penyegaran kader dalam penemuan dan pendampingan pasien TBC, akhir pekan lalu.

Kordinator Program TBC MSI Kabupaten Pati, Muhammad Yasir Alimron mengatakan, penyegaran kader ini dilakukan kepada kader yang dulu sudah aktif atau yang belum aktif. Pihaknya kembali mengajak mereka untuk menambah wawasan dan memberikan semangat terkait dengan pendampingan dan penemuan kasus.

“Apalagi kita sempat beberapa bulan tidak ada pertemuan, masa transisi dari Aisyah ke program STPI ini. Baru kali ini bertemu dengan para kader setelah tiga sampai empat bulan ini,” katanya.

Yasir mengungkapkan, kegiatan tersebut juga sebagai salah satu siasatnya untuk membah puskesmas baru. Karena pada program sebelumnya belum dilakukan intervensi. Sehingga pada momen itu pihaknya menginovisi untuk menambah kader baru.

Kader baru yang ia canangkan berada di Puskesmas Cluwak, Puskesmas Dukuhseti. Kemudian dengan penambahan-penambahan dan replikasi kader yang awalnya tidak aktif akan diganti yang aktif.

“Sebenarnya tidak mengganti, ketika kader yang dulunya tidak aktif pun ketika nantinya mau aktif kembali tidak masalah. Karena kader juga memiliki kesibukan lain,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Terbakar Misterius, Nisan Keluarkan Bau Menyan

Selama pandemi ini pihaknya juga mengalami kendala untuk melakukan pelacakan pasien TBC. Karena saat itu pelacakan tidak bisa dilakukan secara offline, sehingga pada awal pandemi pihaknya melakukan screening secara online. Namun, pelacakan secara online pun juga menurutnya tidak berdampak maksimal, karena keterbatasa beberapa kader dalam menjalankan program IT.

“Dimasa pandemi penemuan memamang sangat terdampak. Ketika ditargetkan itu hanya mencapai 50% dari target kita. Dampaknya, ketika pelaksanaan investigasi kontak dan penemuan suspect menurun, akhirnya berakibat pada kasus TBC semakin sedikit yang ditemukan,” terangnya.

Yasir merinci, pada tingkat kabupaten setiap tahun dirinya bisa menemukan sekitar 2.000 pasien TBC. Namun ketika pandemi pihaknya hanya menemukan sekitar 60 sampai 70 % saja yang bisa tercapai. (fat)

  • Bagikan