Usia Senja tak Jadi Penghalang Peduli Lingkungan

  • Bagikan
Sri Widayatuti
PEDULI: Sri Widayatuti saat menunjukkan barang limbah hasil kreasinya, di kediamannya, di Perumahan Wijayakusuma, Jogoloyo, Wonosalam, Senin (21/6). (AJI YOGA / LINGKAR JATENG)

DEMAK, Lingkarjateng.com – Meski usianya kini sudah menginjak kepala enam, Sri Widayatuti tetap aktif peduli lingkungan. Di halaman rumahnya, terdapat puluhan bibit tanaman yang diap dipindah ke tanah.

Sri Widayatuti mengatakan bibit-bibit tanaman tersebut merupakan hasil jerih payahnya sendiri selama bertahun-tahun. Kecintaan terhadap lingkungan, sudah muncul semenjak duduk di bangku perkuliahan. Meski dahulu mengambil jurusan ekonomi di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, dirinya tertarik akan kegiatan mahasiswa pecinta alam.

“Untuk saat ini, saya juga menjadi pembimbing di Forum Demak Hijau,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, di Perumahan Wijaya Kusuma I, Jogoloyo, Wonosalam, Demak, Senin (21/6).

Dari rasa cintanya terhadap lingkungan tersebut, dirinya juga bisa menghasilkan buah tangan dari limbah. Beberapa sampah bungkus kopi, ia sulap menjadi tas, dompet, bahkan gantungan kunci.

“Memang kalau dijualnya satu-satu mungkin kurang menarik. Jadi terkadang kami memanfaatkan CSR perusahaan dengan memasukkan proposal. Kemudian produk hasil dari limbah itu kita jual ke pondok pesantren putri, atau ke ibu-ibu pengajian,” katanya .

BACA JUGA:  Bantu Warga Terdampak Pandemi, BPPKAD Kudus Beri Keringanan PBB Hingga 50 Persen

Widayatuti mengatakan, meski kini sudah berada di usia senja dirinya masih ingin terus aktif berkegiatan yang peduli terhadap lingkungan. Ia juga menjadi salah satu yang mempelopori berdirinya bank sampah di wilayahnya.

“Kalau bank sampah di Wiku I itu sudah berdiri kurang lebih 13 tahun. Saya dulu juga yang mendorong, pokoknya harus ada bank sampah. Biasanya kan bank sampah itu setelah berdiri, kemudian mati. Untungnya sampai sekarang masih ada,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, bahwa untuk saat ini, perjuangan kecintaan terhadap lingkungan bagi pemuda di Demak masih dirasa sangat berkurang. Ia bercerita, apa yang sudah ia lakukan, selalu bermula dari hati. Selama berkegiatan di bidang lingkungan, dirinya tidak pernah menjadikan uang sebagai patokan utama. Menjalin kekerabatan terhadap sesama pecinta alam lebih didahulukan dari pada hanya sekadar materi.

“Saya punya prinsip selama masih mampu, ya kita laksanakan,” tandasnya. (cr3/git)

  • Bagikan