Dewan Nilai Titik Koordinat PPDB Jalur Zonasi di Kudus Perlu Dievaluasi

  • Bagikan
Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus Achmad Yusuf Roni
Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus Achmad Yusuf Roni. (SYAMSUL HADI / LINGKAR JATENG)

Gema DPRD Kabupaten Kudus

KUDUS, Lingkarjateng.com – Sebentar lagi sudah memasuki tahun ajaran baru. Beberapa Kabupaten dan Kota di Indonesia sudah mulai mempersiapkan pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini, salah satunya adalah Kabupaten Kudus. .

Salah satu masalah yang dialami calon peserta didik adalah mengenai titik koordinat jalur zonasi. Baik SD, SMP, maupun SMA.

Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus Achmad Yusuf Roni menyatakan, jika permasalahan pada titik koordinat sudah terjadi sejak PPDB dilaksanakan dengan sistem zonasi. Menurutnya, sistem zonasi tersebut perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut untuk mengatasi kendala-kendala yang ada.

“Ada tiga hal yang perlu dievaluasi mengenai sistem zonasi itu. Sehingga, permasalahan-permasalahan yang ada saat ini tidak terus dialami bagi calon peserta didik kembali,” ucapnya saat dihubungi (28/6).

Pihaknya meyampaikan, evaluasi pertama yakni meskipun ada kuota untuk siswa berprestasi, porsinya masih kecil. Dibandingkan, dengan calon siswa yang wilayahnya berdekatan dengan sekolahan favorit. Khususnya sekolah unggulan.

Kemudian, yang kedua sistem zonasi tersebut masih belum diimbangi dengan ketersediaan di suatu wilayah itu. Dirinya mencontohkan, seperti calon siswa yang berada di Kecamatan Undaan harus bersaing dengan yang berdomisili di Kecamatan Jati dan Kota. Dalam mencari sekolah SMA.

BACA JUGA:  Pemprov Jateng Siapkan Ketentuan Pembelajaran Tatap Muka

“Yang di Kecamatan Undaan harus mampu bersaing dengan Kecamatan Jati dan Kota. Karena di Kecamatan Undaan belum ada SMA Negeri. Sedangkan, jumlah SMA di Kecamatan Jati dan Kota pun masih terbatas juga,” tuturnya.

Achmad melanjutkan, evaluasi sistem zonasi yang ketiga yakni banyak orang tua siswa yang kemudian menjelang pendaftaran sekolah melakukan pindah alamat. Dengan memindahkan domisili ke alamat dengan sekolah rencana tujuan.

“Meskipun tempat tinggalnya tidak di alamat itu, mereka akan memindahkan alamat mereka ke lokasi yang lebih dekat dengan sekolahan tujuan. Hal ini perlu diverifikasi secara ketat oleh panitia PPDB. Dengan tidak hanya mendasarkan koordinat tempat tinggal, namun juga perlu sampling lapangan,” pungkasnya.(sam/rds)

  • Bagikan