Sulap Sampah Laut Jadi Miniatur Cantik

  • Bagikan
kerajinan burung Merak
KREATIF: Salamun sedang memotong lembaran kaleng menjadi bagian-bagian kecil untuk dibuat kerajinan burung Merak. (ERNA D/ LINGKAR JATENG)

SEMARANGBanyaknya sampah yang mengapung di laut atau pinggir pantai dapat memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Salamun (45) berupaya mengurangi sampah yang mengapung di laut Semarang bagian utara dengan menyulapnya menjadi miniatur cantik. Dengan keterampilannya, ia bisa merubah sampah menjadi aneka miniatur cantik seperti miniatur  kapal, burung merak dan lain sebagainya.

“Bapak berpikir ini gimana caranya bisa membersihkan sampah walaupun sendiri, ya memang tidak bisa habis (sampahnya) tapi setidaknya bisa mengurangi,” jelas Salamun ditemui di kediamannya, Kamis (15/7).

Salamun menuturkan bahwa sampah di Semarang bagian utara cukup banyak. Tak hanya plastik, namun juga kaleng, kayu dan bambu. Berawal dari situlah, Salamun mencoba belajar menyulap kaleng bekas menjadi patung merak yang cantik. Serta kayu dan bambu diubah menjadi miniatur kapal.

“Posisinya kalau masih ada tutup, kalengnya mengapung. Di lihat laut Semarang Utara gak enak banget, ada kaleng mengapung. Jadi bapak ambil bawa pulang.Ini bagaimana caranya membuat sesuatu yang beda dari sampah di laut ini. Bapak tidak belajar dimana-mana, otodidak,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Lokalisasi Sunan Kuning Semarang segera Ditutup

Potongan itu yang kemudian dirakit menjadi hiasan berbentuk burung merak. Ia melakukan aktivitas tersebut di sebuah pondokan kayu yang berlokasi di Jalan Tambakrejo RT 3/XVI, Tanjung Mas, Semarang Utara. Ia mengkreasikan kerajinannya selepas melaut memancing kerang hijau. Lima tahun sudah, berbagai kerajinan berbahan dasar limbah diciptakan dari tangan terampilnya.

“Paling banyak sampah plastik, bapak belum tahu akan dibuat apa. Tapi bapak akan terus berusaha agar sampah plastik juga bisa berkurang,” tuturnya.

Untuk patung Burung Merak berukuran 90×90, Salamun mampu mengerjakan dalam waktu satu minggu. Sementara untuk kerajinan berukuran kecil, dalam satu hari ia mampu menghasilkan tiga miniatur. Kerajinan Salamun juga dijual melalui sosial media. Namun, Ia mengatakan lebih banyak orang yang mengetahui hasil karya Salamun melalui getok tular atau informasi dari mulut ke mulut.

“Dibandrol dari harga Rp 150 ribu sampai Rp 1,5 juta,” pungkasnya. (cr12/git)

  • Bagikan