Ciptakan Puluhan Produk Olahan Sampah

  • Bagikan
ka Yudha, Direktur Utama Bank Sampah Resik Becik Semarang
KREATIF: Ika Yudha, Direktur Utama Bank Sampah Resik Becik Semarang dan produk-produk karyanya, di rumahnya, Jl. Cokro kembang No.11, Krobokan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (18/7). (ERNA D/ LINGKAR JATENG)

SEMARANGSampah seringkali dianggap sebagai barang yang sudah tidak berharga, layak dibuang, dan harus disingkirkan. Anggapan-anggapan ini membuat Ika Yudha, Direktur Utama Bank Sampah Resik Becik Semarang, ingin membuktikan bahwa sampah bisa dikreasikan menjadi produk yang bernilai jual.

“Intinya kami berupaya untuk menambah nilai, dari seluruh sampah yang diasumsikan bahwa sampah itu sudah tidak berharga. Kami kreasikan sampah menjadi produk yang layak pakai. Jadi yang semula dianggap tidak berharga, kemudian bisa naik derajatnya, ” katanya, saat ditemui di rumahnya, Jl. Cokrokembang No.11, Krobokan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (18/7).

Berawal dari sini, Ika bersama ibu-ibu yang menyukai keterampilan akhirnya mendirikan Bank Sampah Resik Becik, yang diresmikan pada 15 Januari 2012. Tujuan didirikannya bank sampah ini adalah untuk mengurangi tumpukan sampah di lingkungan sekitar, dan sebagai tempat menyuplai bahan baku sampah untuk dikreasikan.

“Adanya bank sampah ini untuk mengurangi tumpukan sampah yang ada di lingkungan. Dan kami ajak masyarakat untuk menabung sampahnya ke sini,” ujarnya.

Anggota nasabah Bank Sampah yang saat ini tercatat sebanyak 500 orang. Dengan kategori nasabah aktif dan pasif. Nasabah pasif adalah mereka yang hanya menabung sekali saja, sedangkan nasabah aktif adalah mereka yang masih sering menabung.

BACA JUGA:  Buka Peluang Lawan Hendi-Ita, PKS-Gerindra Jajaki Koalisi

“Total nasabah aktif sampai saat ini sekitar 25 persen dari total nasabah itu. Sisanya merupakan nasabah pasif. Biasanya tiap bulan terkumpul 300 kilo sampai 500 kilo sampah, itu total organik dan non-organik,” ungkapnya.

Ika mengatakan pencairan tabungan sampah nasabah tidak terpaut waktu. Nasabah bisa mencairkan tabungan sampahnya menjadi uang kapanpun mereka mau.  Sementara itu, kreasi produk yang dibuat Bank Sampah Resik Becik, kini sudah mencapai sekitar 50 jenis produk. Ika menyampaikan, nyaris setiap bulan pihaknya selalu menambah variasi produk.

“Kami selalu belajar, dan terus mengembangkan kreasi produk-produk baru. Penambahan produk setiap bulan selalu ada, meskipun hanya sekadar modifikasi produk sebelumnya,” tuturnya.

Ia menjual produk dari kreasi olahan sampah tersebut, dengan harga yang beragam. Mulai dari harga Rp 3.500, sampai Rp 750.000, tergantung jenis produknya.

“Untuk harga produk yang paling murah yaitu gantungan kunci Rp 3.500, tempat pensil Rp 15.000, dompet kecil Rp 15.000 sampai Rp 20.000, dompet besar dan tas sederhana Rp 30.000 hingga Rp 40.000, kalau tas yang bagus seperti tas ransel Rp 100.000 sampai Rp 125.000, dan paling mahal itu produk anyaman Rp 250.000, tikar besar berukuran 1,5m x1,5m Rp 750.000,” paparnya. (cr12/gih)

  • Bagikan