Ahli Gizi: Konsumsi Daging Harus Dikontrol

  • Bagikan
Pondok Pesantren An Nur Karanganyar, Tugu, Kota Semarang
GEMBIRA: Sejumlah santri sedang memotong hewan kurban di Pondok Pesantren An Nur Karanganyar, Tugu, Kota Semarang, Selasa (20/7). (ERNA D/ LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban dan pengolahan dagingnya ke menjadi aneka masakan. Di tengah hingar bingar perayaan hari raya ini, masyarakat tetap harus memperhatikan makanan yang dikonsumsi.

Ahli Gizi dari Prodi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan (Fikkes) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Luthfia Dewi, MGz mengatakan, masyarakat tetap harus memperhatikan cara pengolahan daging dan konsumsinya agar memenuhi kebutuhan gizi.

“Boleh konsumsi daging saat merayakan Hari Raya Idul Adha, tapi kembali lagi kesehatan adalah nomor satu,” tuturnya ketika dihubungi Joglo Jateng, Selasa (20/7).

Ia mengatakan, dalam kondisi tubuh yang sehat sekalipun, pengontrolan konsumsi makanan tetap harus diperhatikan. Terlebih untuk konsumsi daging.

“Harus ada porsinya juga, seperti mengkonsumsi makanan sehari-hari saja. Tidak ada kata porsi double, triple. Juga ada asupan sayur untuk menyeimbangkan homeostasis dalam tubuh,” katanya.

Secara sederhana ia menjelaskan, persentase porsi harus disesuaikan dengan kebutuhan gizi manusia yang telah dituangkan pada tumpeng gizi seimbang (TGZ) oleh Kementerian Kesehatan. Sebab, salah satu faktor masuknya penyakit ke dalam tubuh adalah dari makanan yang mengandung kolesterol dan natrium yaitu daging.

BACA JUGA:  Sanksi Hukum Protokol Kesehatan di Jateng Mulai Diterapkan Minggu ini

“Harus sesuai porsi yang dibutuhkan, baik hewani maupun nabati. Protein dua sampai tiga porsi dalam sehari, sedangkan porsi sayuran dapat tiga sampai lima per hari. Kalau tubuh sudah tidak bisa mengkompensasi keseimbangan homeostasis metabolisme di dalam tubuh, nanti mudah bagi penyakit masuk,” jelasnya.

Ia menerangkan, hal ini akan berdampak langsung bagi seseorang yang memiliki riwayat penyakit bawaan, seperti kolesterol, hipertensi dan lainnya. Sehingga, selain tambahan asupan sayuran juga diperlukan aktivitas olahraga.

“Konsumsi protein akan menyumbangkan energi yang tinggi. Otomatis berat badan akan meningkat. Ini kalau orang kurus tidak terlalu, tapi kalau sudah memiliki berat badan lebih, itu yang menjadi masalah. Jadi harus diseimbangkan dengan olahraga,” imbuhnya.

Ia menekankan, melimpahnya daging tidak sepenuhnya dapat dikonsumsi secara lebih. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan teknologi untuk menyimpan daging untuk kebutuhan beberapa hari ke depan. “Sesuatu yang berlebihan pastinya tidak bagus, begitu juga dengan konsumsi daging berlebih,” paparnya. (cr12/gih)

  • Bagikan