Belajar Bertanam dari Internet, Seorang Guru Untung Jutaan Rupiah

  • Bagikan
Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Karangtalun Kidul Mukhtar Yusuf
SUKSES: Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Karangtalun Kidul Mukhtar Yusuf sedang memperlihatkan buah melon yang ditanamnya. (NR SIDIQ / LINGKAR JATENG)

BANYUMASSejak adanya pandemi Covid-19 masyarakat harus beradaptasi dengan berbagai hal baru yang belum pernah mereka lakukan salah satunya bekerja dengan metode work from home (WFH) atau bekerja dari rumah. Salah satu guru di Kabupaten Banyumas memanfaatkan waktu di sela-sela WFH untuk belajar membudidayakan melon varietas golden aroma dengan sistem hidroponik nutrient film technique (NFT).

Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Karangtalun Kidul Mukhtar Yusuf mengatakan, awalnya menanam lima pohon melon untuk uji coba di depan rumah dengan hidroponik sistem tetes. Namun, ia kembali menanam 200 pohon dengan sistem hidroponik NFT tanpa greenhouse dan menghasilkan keuntungan jutaan rupiah.

“Semua tekniknya menanamnya saya belajar melalui Youtube dan artikel di Google,” katanya Rabu (21/7).

Setelah berhasil menanam 200 pohon, ia lalu membuat greenhouse dan kembali menanam 500 pohon menggunakan sistem hidroponik NFT agar bisa menanam melon dengan media tanpa air “full”. Dalam rangkaian pipa yang dilubangi inilah air sebagai media tanam beserta nutrisi makanan dipompa secara periodik untuk tumbuh kembang melon tersebut.

“Jadi di masa Pandemi ini dengan WFH ditambah lagi saat ini ada PPKM Darurat justru menjadi hikmah bagi saya untuk belajar di bidang lain,” ujarnya.

BACA JUGA:  Tips Atur Keuangan Bagi Karyawan di Saat Pandemi

Mukhtar menjelaskan. untuk menanam 500 pohon melon jenis golden aroma hingga panen membutuhkan waktu 80 hari. Jenis tersebut mempunyai bentuk dan tekstur daging dan menarik ditambah lagi tingkat kemanisan yang memuaskan.

Ia menyebutkan untuk bertanam melon sebanyak 500 pohon dibutuhkan luas lahan sekitar 150 meter persegi. Selain itu, membangun greenhouse yang terbuat dari bahan bambu membutuhkan dana Rp 35 juta.

“Dengan harga per kilo Rp 30 ribu, kita bisa mendapatkan Rp 21 juta jika dikurangi dengan bahan baku dan operasional Rp 5 juta, maka hasil bersihnya Rp 16 juta sampai dengan panen,” tuturnya.

Berkat pengalaman itulah, ia berpesan untuk para pemuda di luar sana untuk bisa melirik dunia pertanian modern. Menurutnya, saat ini belajar bisa lewat mana saja termasuk melalui media sosial dan internet.

“Manfaatkan ponselmu untuk mencari ilmu yang bisa membuat kita produktif, tak ada kata terlambat dalam belajar dan setelah sukses jangan pernah pelit berbagi ilmu agar kita bisa bermanfaat untuk orang lain,” tegasnya.(cr9/akh)

  • Bagikan