Kuliah Daring Tingkatkan Perkembangan Literasi Digital

  • Bagikan
Dosen Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Pati, Rofiq Fuaidi.
Dosen Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Pati, Rofiq Fuaidi. (ACHWAN / LINGKAR JATENG)

PATI – Aktivitas perkuliahan daring memiliki banyak kelemahan ketimbang kuliah tatap muka. Namun perkuliahan online yang tidak lagi menjadikan kampus sebagai pusat kegiatan belajar juga memiliki sejumlah kelebihan. Diantaranya meningkatnya budaya literasi digital dan inovasi ilmiah lainnya di media sosial.

Penggiat pendidikan Rofiq Fuaidi menyatakan, mau tak mau perguruan tinggi harus menyesuaikan perkuliahan dan paradigma pendidikan yang mereka terapkan dengan situasi pandemi. Keterbatasan pertemuan dosen dengan mahasiswa menuntut proses belajar menuntut penulisan ilmiah dan inovasi pembelajaran digital.

“Namun dalam upaya penguatan literasi digital ini perlu kesiapan sarana dan prasarana serta keterampilan teknis. baik di kalangan mahasiswa maupun dosen. Adapun tindakan yang bisa dilakukan ialah pendampingan literasi digital dalam pengembangan pendidikan, dengan konten pembelajaran,” terangnya, kemarin.

Pengajar di Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Pati ini menyebut, saat ini aktifitas perkuliahan tak lagi didominasi dosen. Oleh sebab itu, mahasiswa dituntut untuk memperkaya bahan kuliah dari sumber-sumber digital, jurnal dan buku-buku.

“Saat ini penelitian skripsi diarahkan ke penelitian kepustakaan. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan cara memperbanyak membaca artikel ilmiah, jurnal, buku-buku.  Mengumpulkan sebanyak mungkin teori dan mengkomparasikannya,” jelasnya.

BACA JUGA:  Dua Warga Dirawat di Ruang Isolasi RSUD Soewondo dan RSU Fastabiq Sehat Pati

Sehingga inovasi ilmiah, materi perkuliahan dan produk pembelajaran lainnya semakin bertambah jumlahnya di sejumlah platform media sosial terutama Youtube. Menurutnya hal tersebut merupakan kelebihan perkuliahan di masa pandemi yang harus bisa dikembangkan dengan maksimal.

“Kelebihan lain perkuliahan masa pandemi yakni gagasan, inovasi mahasiswa lebih mudah dibaca atau dilihat publik secara luas. Hanya saja, hal itu menuntut dosen untuk mendorong agar mahasiswa percaya diri untuk menyebarkan gagasannya di jejaring sosial,” imbuhnya.

Ia menambahkan hal tersebut sesuai dengan prinsip Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan pemerintah belum lama ini. Dalam kuliah online, mahasiswa kerap mengerjakan tugas kemudian mempublikasikannya. Namun hal tersebut harus disertai visi pengabdian masyarakat yang kuat.

“Mislanya saat melaksanakan KKN, mahasiswa tidak lagi terjun ke masyarakat secara langsung. Namun diarahkan untuk berinovasi untuk menciptakan seuatu terobosan baru dibidang masing-masing,” pungkasnya. (cr4/fat)

  • Bagikan