Keluhkan Masih Ada Larangan Makan di Tempat

  • Bagikan
Jalan Wonodri Baru Raya
MENUNGGU PEMBELI: Adi (36), pemilik warung masakan Padang, saat ditemui di warungnya di Jalan Wonodri Baru Raya, Kamis (22/7). (ERNA D/ LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4 dikeluhkan para pedagang kecil di Kota Semarang. Sebab dalam peraturan tersebut dilarang makan/minum di tempat. Sehingga hal itu mempengaruhi omzet penjualan.

Umiyati (46), salah seorang penjual soto di Jalan Lamper Sari mengaku penjualannya mengalami penurunan selama masa PPKM darurat. Terlebih dengan adanya perpanjangan PPKM, ia khawatir penjualannya akan semakin menurun.

“Penjualan menurun daripada sebelumnya (sebelum PPKM). Ibaratnya saya dapat omset sebelumnya satu juta, sekarang sehari paling 500 ribu,” tuturnya ketika ditemui di warungnya, Kamis (22/7).

Ketika berjualan pun, lanjutnya, Umiyati mengaku sering merasa khawatir karena adanya razia. Ia menuturkan sempat berdebat dengan satpol PP karena menerima satu pelanggan untuk makan di tempat.

“Seminggu lewat sini sekali, tiap Rabu. Itu selama PPKM lho ya. sekitar jam 9 sampai 10 pagi. Gas saya pernah disita, mau ditebus malah dipersulit harus bawa surat dari RT, RW, kelurahan atau apalah,” ujarnya.

Kesulitan karena tidak diperbolehkan menerima pembeli untuk makan di tempat juga dialami oleh Adi (36), pemilik warung masakan Padang. Pendapatannya bahkan menurun lebih dari dua kali lipat.

BACA JUGA:  Angka Penularan Covid-19 Turun Usai PPKM Darurat

“Penjualan anjlok hingga 70 persen karena makan di tempat tidak boleh. Seumpama tamu tidak dibolehin makan ditempatkan, mereka nggak jadi beli. Akhirnya penghasilan berkurang,” terangnya ketika ditemui di warungnya di Jalan Wonodri Baru Raya.

Adi berpendapat, seharusnya bukan penjual yang ditindak oleh petugas, melainkan kerumunannya. Asalkan ada pembatasan pelanggan, lanjutnya, seharusnya makan di tempat tidak menjadi masalah.  “Saya dulu buka dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Sekarang nggak nyampe jam 8, jam 7 saja sudah tutup. Soalnya juga udah sepi, nggak ada orang,” ujarnya.

Ia berharap agar pemerintah lebih bijak mengambil keputusan agar tidak memberatkan masyarakat. “PPKM sudahlah jangan ditambah-tambahin terus. Dampaknya untuk pedagang lebih parah. Gimana caranya untuk orang-orang yang terdampak, misalkan ada bantuan sembako atau apalah untuk kebutuhan rumah. Karena kan semua orang juga berdampak,” tandasnya.  (cr12/gih)

  • Bagikan