Disdik Gelar Sosialisasi, Perkecil Kesalahan Penulisan Ijazah

  • Bagikan
sosialisasi oleh Disdik Kudus
FOKUS: Penyampaian materi sosialisasi oleh Disdik Kudus kepada seluruh peserta di aula SMP 2 Kudus, Senin (26/7). (MUHAMMAD ABDUL MUTTHOLIB / LINGKAR JATENG)

KUDUS, Lingkarjateng.com – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus menyelenggarakan sosialisasi pengisian ijazah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Kudus, Senin (26/7). Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh SMP di Kudus.

Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada, melalui Kasi Kurikulum Pendidikan Dasar Afri Shofianingrum menerangkan, total 50 sekolah negeri dan swasta menghadiri acara tersebut. Selain sosialisasi, pembagian blangko ijazah juga dilaksanakan setelah acara selesai digelar.

“Kami menerima ijazah 20 Juli kemarin, akan tetapi tidak bisa langsung dibagikan ke sekolah hari itu juga. Karena perlu pengecekan, penghitungan blangko yang akan dibagikan dan penulisan segala macam. Butuh persiapan, sehingga hari ini baru bisa dibagikan,” terangnya.

Sosialisasi diselenggarakan secara luring, karena membutuhkan fokus lebih. Meski demikian, kegiatan dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

“Jadi ijazah itu kan penting sekali. Kadang-kadang kalau hanya secara daring itu susah. Kalau teman-teman ada pertanyaan, kemudian dikasih contoh itu kurang mantap. Maka dari itu, kami gelar secara luring agar lebih efektif. Kami laksanakan dengan 2 sesi, tujuannya untuk menjaga protokol kesehatan, agar tidak terjadi kerumunan,” paparnya.

Dalam kegiatan tersebut, dijelaskan bahwa penulisan nama dan distribusi ke siswa diberi tenggat waktu. Tujuannya, apabila terjadi kendala atau kekeliruan dalam penulisan nama, dapat segera diperbaiki.

BACA JUGA:  Pandemi Tak Halangi Prestasi

“Pendistribusian ijazah kepada siswa, maksimal sampai 31 Agustus. Kalau bisa segera, karena siswa sudah masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi kalau nanti ada kesalahan atau kendala lainnya bisa segera dikomunikasikan lebih lanjut,” jelasnya.

Afri menyebutkan, bilamana terjadi kesalahan penulisan nama pada ijazah, pihak SMP bisa datang ke dinas untuk melapor. Kemudian akan dibuatkan berita acara, untuk dimintakan ganti blangko.

“Meski dapat diajukan penggantian blangko, akan tetapi kesalahan penulisan tersebut diberi batas waktu. Maksimal 6 bulan sejak penerimaan blangko. Selebihnya sudah tidak bisa lagi, jadi hanya pakai surat keterangan dari sekolah saja untuk pendamping ijazah,” pungkasnya.

Sesuai petunjuk dari pusat, ketika terjadi kesalahan, maksimal dalam waktu 6 bulan blangko harus segera dimusnahkan. Agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Jadi tidak ada ganti setelah tahun tersebut.

“Maka dari itu, 31 Agustus harus sudah didistribusikan seluruhnya. Kemudian apabila terjadi kesalahan, dapat segera ditangani. Harapannya, tidak ada kesalahan penulisan dan tepat waktu. Kalau bisa malah secepatnya. Karena memang sekolah tidak boleh menahan ijazah, karena ijazah merupakan hak anak,” tuturnya. (cr10/fat)

  • Bagikan