Hadapi Pandemi, Sekolah Intens Komunikasi dengan Wali Murid

  • Bagikan
Kepala SD 3 Purwosari Sabani
PERIKSA KONDIDI SEKOLAH: Kepala SD 3 Purwosari Sabani saat melewati lorong sekolah yang sepi karena para siswa masih melakukan pembelajaran jarek jauh (PJJ), belum lama ini. (MUHAMMAD ABDUL MUTTHOLIB / LINGKAR JATENG)

KUDUS, Lingkarjateng.com – Dalam menghadapi situasi pandemi seperti sekarang ini, sekolah perlu berkoordinasi secara rutin dengan orang tua murid. Pasalnya, para guru tidak bisa mengawasi anak didiknya secara langsung. Sehingga butuh komunikasi yang baik, antara pihak sekolah dan wali murid.

Menilik kondisi pandemi seperti saat ini, Sekolah Dasar (SD) Negeri 3 Purwosari telah menyiapkan strategi untuk menghadapinya. Mereka membentuk paguyuban wali murid pada setiap kelas, untuk mempermudah koordinasi antara pihak sekolah dan siswa.

Kepala SD 3 Purwosari Sabani menjelaskan, terdapat beberapa paguyuban dalam setiap kelas, mulai dari kelas I hingga kelas VI. Masing-masing paguyuban dikelompokkan berdasarkan domisili.

“Jadi awalnya kami memetakan domisili siswa. Kemudian mereka yang lokasinya berdekatan, dijadikan dalam satu paguyuban. Tujuannya supaya koordinasi ke depan jadi lebih mudah, khususnya terkait pengawasan anak,” jelasnya.

Komunikasi antara pihak sekolah dengan wali murid menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan, proses pembelajaran di SD 3 Purwosari dilakukan secara daring dan luring.

“Jadi untuk penjelasan kepada siswa, kami lakukan secara daring. Bisa melalui zoom meeting ataupun whatsapp. Kemudian untuk penugasan, kami lakukan secara luring. Jadi orang tua ataupun wali murid datang ke sekolah, untuk mengambil tugas. Itu yang terkadang ada miskomunikasi,” terangnya.

BACA JUGA:  Kuota Peserta Didik Baru Dikurangi

Pemberian tugas menjadi kurang bisa tersampaikan, karena anak tidak mendapat penjelasan langsung dari guru. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya membuat sebuah kegiatan penjelasan lanjutan.

“Kami sudah mempersiapkan guru, untuk datang ke paguyuban yang menemui masalah. Akan tetapi dengan beberapa ketentuan, seperti lokasi yang paling dekat, kondisi yang paling aman, dan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Ketentuan tersebut dibuat untuk melindungi guru, sebagai tindakan preventif,” ungkapnya.

Dengan demikian, pihak sekolah dan siswa dapat saling bekolaborasi satu sama lain. Tujuannya tidak lain adalah, untuk mewujudkan pembelajaran yang lebih efektif.

“Dengan adanya koordinasi intens seperti ini, proses belajar mengajar jadi lebih mudah dan tertata. Jadi lebih mudah dalam berkompromi. Karena saling mengetahui kondisi satu sama lain,” pungkasnya. (cr10/fat)

  • Bagikan