Sampaikan Penanganan Covid-19 Melalui Kesenian

  • Bagikan
Paugering Kanthi Mangkok
LANCAR: Pentas virtual bertajuk Paugering Kanthi Mangkok yang berhasil digelar FK Metra dan KBPW, untuk diajukan dalam lomba Pertunra akhir Agustus mendatang. (SYAMSUL HADI / LINGKAR JATENG)

KUDUS – Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) bersama Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) sukses menggelar pentas virtual bertema Jogo Tonggo Paugering Kanthi Mangkok. Pentas virtual tersebut, akan diajukan dalam lomba Pementasan Tradisional Pertunjukan Rakyat (Pertunra), melalui kanal youtube FK Metra Kudus pada akhir Agustus mendatang.

Ketua KBPW Muhammad Zaeni menjelaskan, istilah paugering kanthi mangkok ini sengaja dijadikan tema besar untuk mentafsir ulang hukum-hukum. Atau norma sosial yang diajarkan oleh Sunan Muria.

“Di situ kenapa kita memakai istilah paugering bukan pagerono, karena kita membicarakan tatanan Sunan Muria yang disuarakan kembali dengan versi terbaru,” ucapnya.

Pentas virtual ini, lanjutnya, tidak hanya sebagai alternatif penyampaian ajaran Sunan Muria, akan tetapi yang tidak kalah untuk menjadi pesan utama yakni tentang jogo tonggo. Ketika pesan yang harus sampai kepada masyarakat adalah bagaimana penanganan Covid-19, yang terlintas adalah pager mangkok.

“Alurnya mengalir. Pencegahan tentang virus kami sampaikan melalui seni tari. Kemudian penyampaian ajaran pager mangkok kami sampaikan melalui tokoh dalang,” tutur Zaeni yang kerap disapa Jesy Segitiga.

BACA JUGA:  KPK Geledah Ruang Kerja Staf Khusus Bupati dan Sekda, Ini Komentar Wabup Hartopo

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kudus Kholid Seif menyampaikan, pertunjukkan virtual ini tidak hanya sekedar formalitas untuk mengikuti lomba. Namun, banyak pesan yang bisa disampaikan kepada masyarakat. Khususnya kondisi orang yang memiliki berbagai sudut pandang tentang virus Covid-19.

“Pesan-pesan dari Mbah Sunan Muria, berupa pager mangkok dan tapa ngeli ini bisa disampaikan. Istilah jogo tonggo merupakan upaya masyarakat menjaga desa, menjaga tetangga dan menjaga diri sendiri. Baik itu dalam menjaga kesehatan maupun kesejahteraan. Cara menjaganya dengan kita ikut berbagi sesuai dengan pager mangkok,” ujarnya.

Sebagai pelestarian budaya tradisional, di satu sisi juga bisa menjadi sarana penyampaian program pemerintah. Kholid juga mengapresiasi pemuda Kudus dan masyarakat Piji Wetan yang bisa saling guyub rukun dalam melestarikan tradisi. Potensi dan aset bagi bangsa ini harus bisa dijaga.

“Harapannya, masyarakat Kudus bisa ikut serta dalam melestarikan budaya khas Kudus. Sebab, budaya bisa menjadi salah satu alternatif efektif untuk menyampaikan suatu pesan kepada masyarakat. Kesadaran budaya jga harus ditumbuhkan di masyarakat,” pungkasnya. (sam/fat)

  • Bagikan