Covid-19 Susut, 24 Tempat Isolasi di Jateng Ditutup

  • Bagikan
Tempat isolasi terpusat di gedung BPSDMD Jateng
SEPI: Tempat isolasi terpusat di gedung BPSDMD Jateng terlihat lenggang, Kamis (9/9). (SOFIA/ LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Mengikuti penyusutan jumlah angka positif Covid-19 di Jawa Tengah, sejumlah tempat isolasi mandiri ditutup. Penutupan dilakukan berdasarkan instruksi Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah bersama dengan pemerintah daerah.

Kepala Bidang Layanan Kesehatan Dinkes Jateng Sagung Sri Rika Purniawati mengatakan, dari total 70 tempat isolasi mandiri di seluruh wilayah Jawa Tengah, 24 di antaranya sudah ditutup. 46 lokasi masih disediakan untuk isolasi meskipun sebagian besar sudah tidak ada pasien yang dirawat.

“Untuk jaga-jaga kita masih sediakan. Tapi sebagian besar memang sudah kosong,” tutur Rika di kantornya, Kamis (9/9).

Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, saat ini sudah banyak tempat isolasi di kabupaten/kota yang sudah tidak ada pasien. Di antaranya Kabupaten Banjarnegara, Blora, Demak, Grobogan, Jepara, Surakarta, Kudus, dan Wonosobo. Rika mengatakan, untuk selanjutnya tempat-tempat tersebut akan diserahkan kembali ke pemerintah daerah.

“Untuk penutupan dan pengelolaan tempat isoter (isolasi terpusat) menjadi kebijakan dari masing-masing daerah,” terangnya.

Dari seluruh tempat isolasi terpusat, lokasi yang masih banyak merawat pasien adalah di asrama haji Donohudan, Solo. Yaitu sebanyak 107 dengan kapasitas 872 pasien. Adapun tempat isolasi lain yang masih buka saat ini hanya merawat pasien berkisar 4 sampai 30 orang.

BACA JUGA:  Keliling Kota Lama Bisa Gunakan Golf Car

Salah satu lokasi isolasi yang masih buka adalah di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Jateng di Tembalang, Semarang. Sampai saat ini, (9/9) pasien yang masih dirawat di lokasi tersebut berjumlah 9 orang.

Aufan (25), salah satu tenaga kesehatan yang bertugas di BPSDMD mengatakan bahwa jumlah pasien yang dirawat sudah menurun drastis. Pada Juni-Juli, BPSDMD merawat pasien isoman hingga 180 orang.

“Alhamdulillah sudah menurun sekali. Kebanyakan yang di sini itu dari bandara. Jadi jika di-swab di bandara atau pelabuhan kok positif, nanti diisolasi di sini. Atau boleh pulang dengan syarat dijemput oleh nakes daerahnya,” jelas Aufan.

Koordinator isolasi di BPSDMD Aji mengatakan, tempatnya memang difokuskan untuk pelaku perjalanan. Pihaknya menyediakan ambulans untuk melakukan penjemputan pasien di bandara dan pelabuhan. Hal ini yang menyebabkan BPSDMD masih terus menerima pasien.

“Tempat kita tujuan awalnya memang untuk pelaku perjalanan, tapi karena kemaren booming itu jadi dibuka untuk umum,” ujarnya. (cr13/gih)

  • Bagikan