Sosialisasi Sekolah Penggerak, Wujudkan Visi Pendidikan

  • Bagikan
Program Sekolah Penggerak
SIMAK: Peserta sosialisasi Program Sekolah Penggerak saat mengikuti kegiatan, di Pusat Belajar Guru, Jumat (10/9/2021). (MUHAMMAD ABDUL MUTTHOLIB / LINGKAR JATENG)

KUDUS, Lingkarjateng.com – Dalam rangka mewujudkan visi pendidikan di Indonesia, yakni terciptanya Pelajar Pancasila. Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kudus menyelenggarakan sosialisasi program sekolah penggerak. Acara tersebut untuk kepala SD negeri dan swasta se Kabupaten Kudus bersama dengan korwil dan pengawas SD. Kabupaten Kudus ditunjuk menjadi salah satu kabupaten sasaran angkatan ke 2, bersama 8 kabupaten lain di Jawa Tengah.

Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada, melalui Kasi Kurikulum Pendidikan Dasar Afri Shofianingrum menjelaskan, sekolah penggerak merupakan katalis untuk mewujudkan visi pendidikan di masa mendatang. Yakni mewujudkan Indonesia maju, yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila.

“Sesuai dengan istilahnya yaitu katalis, yang berarti suatu zat yang bisa mempercepat proses tanpa mengubah kualitas dan kuantitasnya. Jadi sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil dari siswa secara holistik, untuk mewujudkan pelajar Pancasila. Diawali dengan SDM unggul, yaitu kepala sekolahnya terlebih dahulu,” terangnya.

Konsep dari program Sekolah Penggerak akan saling bersinergi, dari awal pelaksanaan hingga akhir. Sehingga secara umum, hasil belajar yang didapatkan berada di atas level yang diharapkan.

BACA JUGA:  Wali Murid Protes Data PPDB tak Sesuai

“Dimulai dari kepala sekolahnya terlebih dahulu. Kemudian nanti setelah dinyatakan lolos, pengawas dan guru akan bergabung menjadi tenaga ahli,” imbuhnya.

Selain itu, tujuan diadakannya program tersebut adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan. Sehingga, proses kegiatan belajar mengajar dapat lebih optimal.

“Proses pembelajaran nantinya akan berpusat pada murid. Pada setiap pelajaran, akan terdapat refleksi diri serta pengimbasan,”

Meski demikian, program Sekolah Penggerak memerlukan waktu yang cukup panjang. Proses penerapan secara penuh, diperkirakan mencapai tiga tahun lamanya. Hal itu disebabkan karena, ada banyak tahapan yang harus dilewati.

“Ada dua tahapan seleksi yang harus dilalui, yang dijadwalkan selesai pada akhir tahun ini. Kemudian dilanjutkan pelatihan, bagi kepala sekolah yang lolos mulai awal tahun depan. Jadi memang memerlukan waktu yang panjang,” pungkasnya.

Pihaknya berharap, program tersebut dapat berjalan sesuai rencana. Seluruh kepala sekolah yang mengikuti seleksi dapat lolos. Sehingga Kabupaten Kudus nantinya memiliki banyak Sekolah Penggerak, yang dapat dijadikan contoh bagi sekolah-sekolah lainnya. (cr10/fat)

  • Bagikan