Pembelajaran Sederhana, Tata Psikologis Anak

  • Bagikan
Kepala SD 1 Jepang Ngatono
PERKENALKAN: Kepala SD 1 Jepang Ngatono, saat memperkenalkan sekolahnya, belum lama ini. (MUHAMMAD ABDUL MUTTHOLIB / LINGKAR JATENG)

KUDUS, Lingkarjateng.com – Uji coba pembelajaran tatap muka (PTM), mulai dilaksanakan di Kabupaten Kudus sejak 30 September lalu. Meski antusias masyarakat tinggi, namun tetap ada kendala yang dihadapi. Terutama kesiapan mental anak, untuk mengikuti PTM.

Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Jepang memiliki cara tersendiri, dalam menghadapi situasi tersebut. Pihak sekolah telah mengantisipasi kesiapan mental anak, jauh sebelum uji coba PTM dilaksanakan. Salah satunya dengan cara memberikan materi pembelajaran secara sederhana namun mengena.

Kepala SD 1 Jepang Ngatono menerangkan, proses pembelajaran selama pandemi, tidak dapat disamakan dengan kondisi normal. Artinya, dibutuhkan perlakuan khusus. Hal itu disebabkan, karena intensitas dan metode pembelajaran selama pandemi sangat berbeda.

“Kita tidak bisa memaksa anak, agar bisa mendapatkan nilai minimal, sesuai ketentuan seperti sebelum pandemi. Karena kondisi di lapangan, tidak semua siswa memiliki smartphone pribadi. Sebagian besar masih menggunakan milik orang tua,” terangnya.

SD 1 Jepang membuat langkah, dengan cara membuat metode pembelajaran secara sederhana. Sehingga siswa dapat lebih nyaman dalam belajar, dan materi yang diberikan lebih mengena. Aturan dan target capaian yang dapat membebani anak juga dikurangi selama pandemi.

BACA JUGA:  Persiapkan Kegiatan Saat Purna

“Sesuai arahan Pak Bupati, kita harus menata psikologis anak terlebih dahulu. Jangan sampai justru malah membebani anak. Pembelajaran juga dilakukan secara sederhana, langsung ke poin-poinnya saja,” jelasnya.

Anak diarahkan sesuai dengan minat masing-masing. Materi yang diberikan dibuat sesederhana mungkin, akan tetapi masih pada substansinya. Sehingga, minat anak untuk belajar semakin meningkat.

“Selama uji coba PTM, anak juga diajak interaksi dalam bentuk lain. Seperti bernyanyi, bersenda gurau, guyon, dan lain sebagainya. Tujuannya supaya anak tidak terbebani, sehingga bisa lebih mudah memahami materi yang diberikan guru,” pungkasnya.

Ngatono berharap, PTM dapat terus dilaksanakan tanpa ada kendala. Dengan demikian, para siswa dapat menerima pelajaran sesuai dengan porsinya. Kemudian proses belajar mengajar bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya. (cr10/fat)

  • Bagikan