Konsep Humanistic Approach terhadap Peserta Didik di Era PJJ

  • Bagikan
Andika Subiyanto, S.Pd
Andika Subiyanto, S.Pd

Oleh :Andika Subiyanto, S.Pd
Guru SDN Wotan 04, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati

Humanistik adalah salah satu pendekatan atau aliran dari psikologi yang menekankan kehendak bebas, pertumbuhan pribadi, kegembiraan, kemampuan untuk pulih kembali setelah mengalami ketidakbahagiaan, serta keberhasilan dalam merealisasikan potensi manusia. Salah satu pencetus psikologi Humanistik adalah Abraham Maslow. Teori Humanistik berasumsi bahwa teori belajar apapun baik dan dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu pencapaian aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang belajar secara optimal (Assegaf, 2011).

Pendidikan sejatinya merupakan suatu proses memanusiakan manusia. Suatu tindakan proses belajar dari yang tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan sejatinya dapat mencetak generasi yang unggul di masa depan. Hal ini seperti yang dikemukakan dalam suatu teori belajar yakni teori humanistik. Dimana tujuan dari belajar adalah bagaimana cara memanusiakan manusia. Teori ini bersifat alektif, artinya dapat memanfaatkan teknik atau teori belajar apapun asal tujuan belajar siswa dapat tercapai. Seorang individu diharapkan dapat mengaktualisasikan diri atau menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan. Proses belajar Humanistik memusatkan perhatian kepada diri peserta didik sehingga menitikberatkan kepada kebebasan individu.

Pendidikan sebagai basis individu dalam belajar merupakan sistemasi dari proses perolehan berbagai macam kemampuan untuk bertahan hidup dalam konteks sosial. Pendidikan berjalan pada setiap saat dan setiap tempat. Setiap manusia mengalami proses pendidikan lewat apa yang dijumpai atau apa yang dikerjakannya. Gambaran mutu pendidikan di Indonesia saat ini menurut Blazety dkk (1997) bahwa pembelajaran di Sekolah masih cenderung teoritik dan tidak terkait dengan konteks lingkungan dimana Peserta Didik itu berada. Akibatnya, Peserta Didik tidak mampu menerapkan apa yang dipelajari dalam pemecahan masalah kehidupannya.

Interaksi Guru dengan siswa merupakan pola kerja hubungan fungsional. Artinya, Guru sebagai pendidik dan Siswa sebagai pihak terdidik. Baik guru maupun siswa sama-sama mempunyai orientasi tersendiri. Meski demikian, orientasi Guru dan Siswa tersebut dapat dipersatukan melalui tujuan instruksional.

BACA JUGA:  Peran Kepala Sekolah Dalam Masa Pandemi

Pada sisi lain, rentang waktu Guru dalam mendidik dan mengajar Siswa juga sangat terbatas. Artinya, tahapan pengambilan tindakan untuk menjalankan proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh para Guru sangatlah bergantung pada waktu studi Siswa pada jenjang sekolah tertentu.  Sebaliknya, tindakan Siswa dalam belajar tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Proses belajar yang dilakukan oleh siswa adalah sepanjang hayat, atau sekurang-kurangnya ia akan terus belajar walaupun sudah lulus Sekolah. Begitu pula jika ditinjau dari aspek proses belajar. Proses belajar dan perkembangan merupakan tahapan internal yang mesti di jalani Siswa. Pada saat bergumul dengan proses belajar dan perkembangannya, siswa sendirilah yang akan mengalami, melakukan dan menghayati proses kesejarahan, yang nantinya akan memacu proses perkembangan mental mereka.

Penulis sebagai Guru kelas V di SD Negeri Wotan 04, Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Telah berupaya meningkatkan hasil belajar siswa meski dalam kondisi PJJ, yaitu dengan konsep Pendekatan Humanistik. Hampir dua Tahun Ajaran, pandemi belum juga berlalu, sehingga proses kegiatan belajar mengajar masih tetap memberlakukan sistem PJJ. Oleh karena itu timbul banyak masalah saat awal pemberlakuan pembelajaran secara daring. Keanekaragaman dan latar belakang peserta didik juga mempengaruhi dalam proses belajar di rumah. Diantaranya adalah keterbatasan waktu Orang Tua/Walimurid yang sebagian besar bekerja mencari nafkah, yang terkadang jarang ada di rumah untuk mendampingi anak belajar mengerjakan tugas dari gurunya. Untuk itu, Penulis mencoba untuk lebih aktif dan kooperatif terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh Orang Tua dan anaknya. Setelah bermusyawarah dengan beberapa pihak pemangku kebijakan, akhirnya terbentuklah kebijakan yang solutif terkait permasalahan yang ada dilapangan. Kemampuan anak yang berbeda-beda dalam menerima asupan pembelajaran ketika daring online tidak menjadikan masalah lagi, ketika kita bisa menyikapinya dengan bijak. (*)

  • Bagikan