Belajar Efektif Dengan Metode Operant Conditioning

  • Bagikan
Rudiyanto, S.Pd.,M.Pd

Oleh : Rudiyanto, S.Pd.,M.Pd
Kepala SDN Sumbersari 03, Kecamatan Kayen Kabupaten Pati

Operant Conditioning adalah suatu model pembelajaran menggunakan reward (hadiah) dan punishment (hukuman) sebagai konsekuensi perilaku. Teori ini dikembangkan oleh B.F Skinner dan sering juga disebut teori Skinner maupun instrumental conditioning. Jika punishment bertujuan sebagai pencegahan suatu kelalaian peserta didik, maka reward diberikan sebagai motivasi dan juga penghargaan yang diberikan kepada siswa. Reward  dan Punishmen, kedua- duanya bertujuan untuk memperbaiki siswa dalam proses belajar mengajar.

Permasalahan yang kerap muncul dalam tingkatan pembelajaran di Google Meet seringkali menyangkut masalah seperti misalnya terlambat memulai Zoom yang sudah dijadwalkan, bercanda dengan teman saat guru menerangkan pelajaran, mengantuk pada saat pembelajaran berlangsung, dan tidak mengerjakan PR. Hal tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan, karena sekecil apapun perbuatan tidak baik yang dilakukan oleh siswa dan biarkan oleh guru adalah sebuah pembelajaran tidak baik bagi siswa itu sendiri, dan sekaligus contoh (modelling) yang tidak baik bagi siswa lain. Oleh karena itu, guru harus mengambil tindakan untuk menghentikan atau memberikan efek jera, salah satunya yaitu dengan metode pemberian hukuman (punishment).

Hukuman yang diterima siswa merupakan pengalaman berharga bagi siswa. Siswa bisa belajar tentang salah dan benar melalui hukuman yang telah diberikan kepadanya. Hal ini menyadarkan siswa akan adanya suatu aturan yang harus dipahami dan dipatuhi. Dengan pemberian hukuman tentu siswa akan lebih berhati- hati dalam bertindak. Karena menyadari akan adanya sebuah konsekuensi dari setiap tindakannya.

Dengan demikian ketika konsekuensi menyenangkan, maka siswa akan menunjukan respons yang mengikuti ataupun mengulanginya dikemudian hari. Sedangkan jika konsekuensi menjengkelkan, menyedihkan, dan menyusahkan, maka respons yang ditimbulkan siswa cenderung akan menghindari, meninggalkan, ataupun tidak mengulanginya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang guru jangan sungkan untuk memberikan reward. Karena bisa jadi siswa akan menjadi baik dan termotivasi dengan sendirinya tanpa guru harus bersusah payah untuk meminta siswanya mengikuti apa yang diperintahkan. Motivasi yang ada dalam diri siswa merupakan hal yang sangat berpenaruh dalam proses pembelajaran. Sehingga, motivasi itu harus didongkrak oleh guru melalui pemberian reward. Akan tetapi, tidak semua guru menerapkan pemberian reward dalam pembelajaran.

BACA JUGA:  Kuota Peserta Didik Baru Dikurangi

Masih banyak guru yang hanya memusatkan perhatiannya pada perbaikan perilaku siswa melalui pemberian punishment, daripada memberikan reward sebagai stimulus munculnya perilaku baik maupun prestasi. Padahal, reward memiliki dampak yang positif bagi siswa. Seperti meningkatkan motivasi belajar, melatih kedisiplinan, dan menjadi teladan bagi teman-temanya. Reward dan punishment dapat menjadi alat yang efektif untuk mendidik anak. Tetapi diperlukan bagaimana cara pelaksanaan yang tepat, sehingga tujuan dari reward dan punishment itu sendiri dapat tercapai. Karena, pemberian reward secara berlebihan dan tidak tepat dapat berdampak negatif seperti ketergantungan anak pada reward, sombong, merasa lebih baik dari teman-temannya. Sebaliknya pemberian punishment yang terlalu sering dan berlebihan justru akan menyebabkan anak menjadi frustasi, pendendam, depresi, ketakutan, pesimis, dan menjadikan siswa pandai menyembunyikan kesalahan.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) telah dilaksanakan sejak awal pandemi, pembelajaran yang tak seperti biasanya membuat anak terkadang merasa jenuh dan bosan dalam proses pembelajaran. Sehingga penulis selaku Kepala Sekolah di SD Negeri Sumbersari 03 Kecamatan Kayen Kabupaten Pati telah menghimbau dan memberikan pembinaan terhadap semua guru agar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode Operant Conditioning, agar peserta didik dapat terpantau dan terkontrol dengan baik. Sehingga pembelajaran jarak jauh pun menjadi lebih efektif. Semua tugas dapat dikumpulkan peserta didik dengan tepat waktu. Dan pemberian hadiah ternyata membuat peserta didik lebih semangat dalam mengerjakan tugas . dan pemberian hukuman membuat anak merasa bersalah sehingga tau kesalahnnya serta mau memperbaiki kesalahannya. Dengan demikian terciptalah pembelajaran daring online menjadi lebih efektif. (*)

 

  • Bagikan