Beri Bimbingan Khusus bagi Anak

  • Bagikan
SD 4 Jepang
PERIKSA: Penerapan protokol kesehatan yang dilakukan SD 4 Jepang, pada uji coba PTM, beberapa waktu lalu. (MUHAMMAD ABDUL MUTTHOLIB / LINGKAR JATENG)

KUDUS, Lingkarjateng.com –Kendala utama yang dihadapi beberapa sekolah pada uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas di Kabupaten Kudus, adalah menurunnya daya serap siswa dalam menerima pelajaran. Menanggapi hal tersebut, Sekolah Dasar (SD) Negeri 4 Jepang memberikan bimbingan khusus kepada siswa.

Plt. Kepala SD 4 Jepang Sutrisno mengatakan, tidak semua siswa diberikan bimbingan khusus. Program tersebut hanya diperuntukkan bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran. Hal tersebut dilakukan, agar siswa yang tertinggal dapat segera mengimbangi siswa lainnya.

“Program bimbingan khusus itu kami buat untuk mereka yang tertinggal dalam pelajaran. Jadi memang tidak semua anak ikut. Kasihan juga anak-anak yang sudah paham, kalau disuruh ikut juga. Karena tujuannya juga untuk mengejar mereka biar levelnya sama. Jadi memang hanya segelintir anak saja,” paparnya.

Waktu pelaksanaan bimbingan, diadakan setelah pulang sekolah. Hal itu dilakukan, agar proses pembelajaran reguler siswa tidak terganggu. Selain itu, durasi pelaksanaan bimbingan juga dibuat singkat. Supaya siswa tidak terlalu terbebani ketika mengikuti program tersebut.

BACA JUGA:  Terima Susulan Vaksinasi Sekolah Lain

“Kami ingin para siswa di sekolah kami bisa berkembang bersama-sama. Akan tetapi, kami juga tidak ingin membebani siswa. Maka dari itu, kami adakan bimbingan dengan durasi waktu yang tidak terlalu panjang. Maksimal 30 menit setiap harinya sepulang sekolah,” ujarnya.

Meski demikian, pelaksanaan bimbingan khusus tetap berpedoman pada protokol kesehatan sesuai aturan yang berlaku. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya klaster baru penyebaran Covid-19. Sehingga, program bimbingan tersebut dapat terlaksana dengan baik.

“Kami tidak ingin niat baik kami untuk membantu anak malah jadi petaka. Oleh karena itu, protokol kesehatan kami terapkan betul-betul. Intinya kami mencegah, jangan sampai terbentuk klaster baru gara-gara program ini,” kata Sutrisno.

Pihaknya mengungkapkan, orang tua siswa mendukung penuh program yang mereka jalankan. Pasalnya, para orang tua menyadari anak-anak membutuhkan bimbingan lebih selama pandemi. Karena penyelenggaraan uji coba PTM dilaksanakan dengan sangat terbatas. (abd/fat)

  • Bagikan