Tingkatkan Kualitas Penanganan Gawat Darurat, Dinkes Pati Gelar Pelatihan BTCLS

  • Bagikan
Pelatihan BTCLS
TANGANI: Para petugas unit gawat darurat dilatih dengan pendekatan yang efisien dalam menangani pasien, belum lama ini. (ACHWAN / LINGKAR JATENG)

PATI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati melakukan upaya peningkatkan kualitas sumber daya medis dalam menangani keadaan gawat darurat. Hal tersebut dilakukan dengan menggelar Pelatihan Basic Trauma & Cardiac Life Support (BTCLS).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Aviani Tritanti Venusia mengatakan, program peningkatan kapasitas tersebut dilaksanakan oleh unit Public Safety Centre (PSC) 119 Kabupaten Pati. Mereka bekerja sama dengan Medical Service Training 119 Jakarta.

“Para peserta adalah perwakilan instansi dari Labkesda, Puskesmas, Rumah Sakit dan para perawat. Kegiatan ini dalam rangka peningkatan sumberdaya manusia dalam sistem gawat darurat,” terangnya, belum lama ini.

Ia menyebutkan tenaga medis dari rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya perlu mendapatkan peningkatan kapasitas. Agar mereka dapat menangani situasi darurat yang dihadapi saat bertugas.

“Kemampuan menilai kondisi pasien dengan cepat dan teliti, stabilisasi pasien menurut prioritas dan menentukan tindakan jika kebutuhan pasien melebihi suatu kemampuan fasilitas,” imbuhnya.

Sementara Kepala Bidang Pelayanan Joko Santoso menambahkan tujuan dari pelatihan tersebut tak hanya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas. Namun juga untuk menjalin kerja sama lintas sektor jika kondisi memerlukannya.

BACA JUGA:  39 Penyintas Klaster Hajatan Dinyatakan Sembuh

Pelatihan ini merupakan pelatihan yang menyediakan suatu metode yang dapat dipercaya dalam penanganan kasus trauma dan pengetahuan dasar kepada perawat dengan sejumlah cara. “Petugas instalasi gawat darurat harus memahami melakukan transfer pasien sesuai dengan situasinya, agar penanganan yang diberikan optimal,” jelasnya.

Joko menyebut pelatihan tersebut sangat diperlukan sebab selama ini pendekatan terhadap penderita cedera sekedar berdasarkan kurikulum ilmu keperawatan di bangku kuliah. Problemnya, metode standar tersebut membutuhkan waktu yang relatif panjang.

“Melakukan pemeriksaan fisik dari ujung kepala sampai kaki. Sampai disusunnya diagnosa, termasuk riwayat penyakit terdahulu. Setelah cara tersebut dipakai, ternyata kematian akibat cedera masih tinggi,” tandasnya.

Maka pelatihan tersebut menekankan bahwa cedera dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang cepat. Maka penting para petugas IGD perlu mempelajari konsep yang lebih efektif dalam memberikan pertolongan kepada pasien yang ditangani di fasilitas gawat darurat. (ahw/fat)

  • Bagikan