Pengasuh Pondok Pesantren Pegang Peran Suksesnya Vaksinasi

  • Bagikan
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen
PANTAU: Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat meninjau vaksinasi di di Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, akhir pekan lalu. (HUMAS / LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Pengasuh pondok pesantren mempunyai peran penting dalam keberhasilan terlaksananya vaksinasi Covid-19 di lingkungan pondok pesantren. Sebab, keputusan pengasuh sangat berpengaruh terhadap kebijakan yang ada di dalam sebuah ponpes dan masyarakat sekitar.

“Pondok menggelar vaksinasi, alhamdulillah permintaannya naik. Ini yang kita harapkan dari pemerintah. Pemerintah ini berharap sekali para tokoh masyarakat khususnya tokoh agama menggerakkan masyarakat,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dalam keterangan tertulis yang diterima Joglo Jateng di Semarang, Minggu (10/10).

Hal tersebut dikatakan Taj Yasin saat memberi sambutan pada kegiatan Peninjauan Vaksinasi Covid – 19 di Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, Magelang, akhir pekan lalu. Menurutnya, terlaksananya vaksinasi di Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol membuktikan bahwa santri masih memiliki sam’an wa tho’atan kepada para kyainya. Ia berpandangan, ketaatan pada kyai ini penting.

Ia menjelaskan, pesantren adalah sebuah ekosistem. Selain kiai, ustadz, santri dan wali santri, di dalamnya juga mencakup masyarakat sekitar pesantren. Jika santri mau divaksin, maka berdampak pada tumbuhnya kepercayaan masyarakat untuk bersama-sama ikut program vaksinasi.

BACA JUGA:  Fokus Program Kerja Prioritas

“Kalau masyarakat awam itu, vaksin ya vaksin saja. Kalau ponpes itu pertimbangannya ada dalilnya, terus ada wali santrinya, wali santri yang tidak terlalu percaya ya ada,” tuturnya.

Sementara, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Timur, KH Muhammad Hafi Firdausy menyampaikan pernyataan senada mengenai ketaatan santri kepada kiai. Setelah pondok pesantren mem-broadcast siap melaksanakan vaksinasi massal, masyarakat sekitar menginginkan untuk bergabung.

Menurutnya, power of fanatisme ini, perlu digaungkan karena masyarakat memiliki kepercayaan yang besar terhadap alim ulama. “Jadi masyarakat, terutama masyarakat kami, fanatisme terhadap kiai itu masih ada. Jadi pengaruh kiai mau vaksin itu ternyata juga ada,” katanya. (hms/gih)

  • Bagikan