Petugas Gabungan Tangkap 14 Manusia Silver

  • Bagikan
Petugas Satpol PP Kota Semarang
CEK: Petugas Satpol PP Kota Semarang sedang memeriksa saku salah satu manusia silver yang diamankan di kantor satpol PP, Sabtu (9/10) malam. (DICKRI TIFANI / LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Petugas gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang melakukan razia terhadap pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT), Sabtu (9/10) malam. Dari razia ini, petugas menangkap sebanyak 14 manusia silver.

Dari pantauan di lapangan, penertiban ini diwarnai isak tangis dari manusia silver, ada juga yang berusaha kabur. Namun mereka tetap diamankan di Kantor Satpol PP Kota Semarang untuk dilakukan pembinaan. Tidak hanya manusia silver saja, tetapi petugas gabungan juga menyasar pengamen badut dan orang gelandangan yang tersebar di Kota Semarang.

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan, penertiban yang dilakukan bersama Dinsos Kota Semarang berhasil mengamankan sebanyak 29 PGOT. Dengan rincian, 14 manusia silver, 6 pengamen badut, dan 9 gelandangan. Menurutnya, mereka yang diamankan diketahui warga Kota Semarang dan dari luar kota.

“Penertiban adanya aduan dari warga dan perintah pimpinan kami, ” kata Fajar usai melakukan razia PGOT, Sabtu (9/10) malam.

Meskipun Satpol PP sering melakukan razia PGOT, menurut Fajar masih ada dari mereka yang kembali di jalanan untuk meminta sumbangan di lampu merah. Hal itu membuat pihaknya kesal atas kelakuan para PGOT. Padahal larangan keberadaan PGOT diatur melalui Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang.

Ia menuturkan, walaupun kondisi saat ini mengalami kesusahan, namun hal itu tidak hanya dirasakan oleh para PGOT, melainkan semua orang. Fajar meminta kepada masyarakat agar mematuhi perda. Sehingga, Kota Semarang bisa menjadi kota yang bersih dari PGOT.

BACA JUGA:  Tim Pemantau Sepi Pendaftaran

“Masyarakat harus tertib aturan, Kota Semarang harus bersih dari PGOT,” ujarnya.

Fajar mengingatkan para PGOT untuk tidak mengulangi perbuatannya kembali mengamen di jalanan. “Ini kami bina, agar mereka tidak kembali di jalanan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinsos Kota Semarang Muthohar menyampaikan, pihaknya mengapresiasi atas kinerja dari Satpol PP. Sebab, sepanjang jalanan protokol di Kota Semarang semakin banyak ditemukan PGOT. Menurutnya, penertiban ini sudah jelas diatur melalui Perda Nomor 5 Tahun 2014, yang mengatur larangan PGOT. “Kami sangat mendukung, apalagi manusia silver sangat marak,” ujarnya.

Dikatakannya, dari 14 manusia silver yang ditangkap, ada satu orang yang baru pertama kali terkena razia. Sedangkan manusia silver lainnya, yakni bolak-balik tertangkap karena kembali beraksi di jalanan. Seolah mereka belum jera atas pembinaan yang dilakukan oleh pihaknya.  “Satu orang baru pertama kali ditangkap, kami bina dan perintahkan pulang. Sementara yang sudah berulang kali akan kita masukan ke panti rehabilitasi sosial,” ungkapnya.

Selain itu, Muthohar menjelaskan, jika ada gelandangan yang berhasil ditangkap diketahui alami gangguan jiwa atau ODGJ, pihaknya akan memasukan mereka ke rumah sakit jiwa yang ada di Kota Semarang. “Gelandangan yang diketahui diduga ODGJ. Akan kami masukkan ke RSJ atau ke Panti Among Jiwo,” jelasnya. (dik/gih)

  • Bagikan