Sediakan 21 Keran untuk Cegah Kerumunan

  • Bagikan
Kepala SD 1 Mlatinorowito Sabari
CONTOHKAN: Kepala SD 1 Mlatinorowito Sabari saat memberikan contoh tata cara mencuci tangan yang baik, belum lama ini. (MUHAMMAD ABDUL MUTTHOLIB / LINGKAR JATENG)

KUDUS, Lingkarjateng.com – Dalam penerapan protokol kesehatan saat proses uji coba pembelajaran tatap muka (PTM), Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Mlatinorowito membuat inovasi. Trobosan yang mereka lakukan adalah dengan membuat 21 keran air. Jumlah tersebut sebagai sarana cuci tangan siswa, untuk mencegah kerumunan.

Kepala SD 1 Mlatinorowito Sabari menerangkan, penerapan protokol kesehatan sesuai prosedur merupakan fokus utama sekolah, pada pelaksanaan uji coba PTM. Pihaknya tidak ingin mengambil risiko dengan mengendurkan penerapan protokol kesehatan. Karena dapat berakibat fatal, bagi kelangsungan dunia pendidikan.

“Dengan tersedianya keran air yang cukup untuk cuci tangan siswa, diharapkan kerumunan bisa dihindari. Karena jika keran yang disediakan hanya sedikit, antrean bisa panjang nantinya. Selain itu kita tahu sendiri, anak-anak itu suka sekali bermain dan bercanda. Jadi agak sulit diatur kalau sedang berdekatan,” ujarnya.

Fungsi satuan tugas (Satgas) pencegahan Covid-19 milik sekolah juga dijalankan dengan optimal. Sebab, para siswa masih sering abai terhadap penerapan protokol kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan tim khusus untuk saling mengingatkan agar kondisi sekolah tetap kondusif.

BACA JUGA:  SDN 2 Purwosari Segera Diperbaiki

“Kami memiliki Satgas Covid-19 yang bertugas memantau penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Mulai dari keberangkatan siswa, proses pembelajaran, hingga pulang sekolah. Bahkan siswa kami tidak diperbolehkan meninggalkan ruang kelas sebelum ada yang menjemput. Itu dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” paparnya.

Sesuai surat edaran dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, teknis keberangkatan siswa dibagi menjadi dua sif setiap kelasnya. Pembagian keberangkatan sif tersebut adalah berdasarkan hari secara bergantian.

“Mengacu pada surat edaran Disdikpora, setiap kelas maksimal hanya diperbolehkan 18 siswa. Karena siswa di sekolah kami setiap kelasnya lebih dari 20, maka kami bagi dua. Sif pertama berangkat setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kemudian sif kedua selebihnya. Dengan begitu, potensi terjadinya kerumunan bisa ditekan,” kata Sabari.

Dengan diterapkannya protokol kesehatan secara ketat di sekolahnya, Sabari berharap pihaknya dapat memberikan kontribusi positif. Dalam upaya menekan angka penyebaran Covid-19, khususnya di Kabupaten Kudus. (abd/fat)

  • Bagikan