Jaksa Masuk Sekolah, Berikan Edukasi Cyber Crime

  • Bagikan
Kasi Intelijen Kejari Kudus Sarwanto
PAPARAN: Kasi Intelijen Kejari Kudus Sarwanto, saat menyampaikan materi penyuluhan cyber crime di aula SMP 1 Kudus, Rabu (13/10). (MUHAMMAD ABDUL MUTTHOLIB / LINGKAR JATENG)

KUDUS – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kudus menggelar program Jaksa Masuk Sekolah (JMS) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kudus, rabu (13/10). Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka pengenalan kejaksaan kepada siswa. Selain itu, penyuluhan dilakukan untuk memberikan edukasi terkait cyber bullying, cyber crime, dan penyalahgunaan narkoba.

Kepala Kejari Kudus Adrian, melalui Kasi Intelijen Sarwanto menerangkan, penyelenggaraan program JMS dilatarbelakangi oleh banyaknya korban cyber bullying cyber crime, dan penyalahgunaan narkoba pada usia di bawah 18 tahun. Sehingga perlu diadakan edukasi, untuk mengantisipasi terjadinya kejahatan di tingkat pelajar.

“Kami berusaha memberikan edukasi kepada siswa, supaya mereka tidak menjadi pelaku ataupun korban cyber bullying, cyber crime, dan penyalahgunaan narkoba. Karena banyak korban berusia di bawah 18 tahun, yang mana kebanyakan masih SMP,” jelasnya.

Rencananya, kegiatan tersebut akan digelar di 10 SMP di Kabupaten Kudus. Pemilihan sekolah yang dijadikan tempat penyuluhan, berdasarkan kesiapan sekolah dalam penyediaan tempat sesuai protokol kesehatan.

“Karena masih pandemi, ada keterbatasan, hanya 10 SMP saja. Memang alangkah baiknya jika semua bisa. Tapi karena keadaan, jadi hanya beberapa saja. Hanya sekolah yang siap saja. Kami memberikan penyuluhan hukum itu sebenarnya tidak hanya ke lingkungan pendidikan saja, tapi juga ada jaga desa, yang diadakan di desa-desa,” paparnya.

BACA JUGA:  Manfaatkan IT untuk Tingkatkan Motivasi Anak

Sementara itu, Kepala SMP 1 Kudus Ahadi Setiawan melalui Urusan Kesiswaan Abu Sofyan menyebutkan, pihaknya sangat mendukung program tersebut. Pasalnya, para siswa sangat rentan terhadap kejahatan di media sosial.

“Para siswa saat ini, dapat dikatakan semua sudah melek IT. Terutama sosial media dan sebagainya. Pada usia mereka yang sekarang, perlu adanya pengarahan seperti ini. Karena sebagian masih belum bisa menyikapi sosial media,” ujarnya.

Menurutnya, para siswa harus dibekali pemahaman terkait bullying, flaming, dan sejenisnya. Supaya mereka memiliki kesadaran, bagaimana ketentuan dan hukum yang berlaku. Sehingga dapat mencegah hal yang tidak diharapkan di masa mendatang.

“Sebenarnya yang namanya bullying itu setiap hari pasti ada. Hanya saja masih banyak dari mereka yang tidak memahami, apa yang mereka lakukan itu salah. Maka dari itu, kami sangat mendukung dan mengapresiasi acara seperti ini,” pungkasnya. (abd/all)

  • Bagikan