Kepemimpinan yang Demokratis dalam Meningkatkan Kualitas Guru

  • Bagikan
Sulastri, S.Pd
Sulastri, S.Pd

Oleh : Sulastri, S.Pd
Kepala SDN Srikaton 02, Kecamatan Kayen Kabupaten Pati

LINGKARJATENG.COM – Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk mempengaruhi bawahan agar sarana organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh pemimpin. Gaya kepemimpinan juga merupakan pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh bawahannya. Gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat dan sikap yang mendasari perilaku seseorang.

Gaya kepemimpinan itulah yang menunjukkan secara langsung maupun tidak langsung tentang keyakinan seorang pemimpin terhadap kemampuan bawahannya. Artinya, gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat dan sikap yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika mencoba mempengaruhi kinerja bawahannya. Sehingga gaya kepemimpinan yang paling tepat adalah suatu gaya yang dapat memaksimumkan produktivitasnya, kepuasan kerja, pertumbuhan dan mudah menyesuaikan dengan segala situasi. Gaya kepemimpinan merupakan dasar dalam mengklasifikasikan tipe kepemimpinan. Adapun gaya kepemimpinan memiliki tiga pola dasar yaitu mementingkan pelaksanaan tugas, mementingkan hubungan kerja sama, dan mementingkan hasil yang dapat dicapai.

Demokrasi adalah keterbukaan dan keinginan memposisikan pekerjaan dari, oleh dan untuk bersama. Tipe kepemimpinan demokratis bertolak dari asumsi bahwa hanya dengan kekuatan kelompok, tujuan yang bermutu dapat dicapai. Pimpinan yang demokratis berusaha lebih banyak melibatkan anggota kelompok dalam memacu tujuan. Tugas dan tanggung jawab dibagi menurut bidang masing-masing. Danim (2006), merumuskan bahwa kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang dilandasi oleh anggapan bahwa hanya karena interaksi kelompok yang dinamis, dimaksudkan bahwa pimpinan mendelegasikan tugas dan memberikan kepercayaan kepada yang dipimpin untuk mencapai tujuan yang bermutu secara kuantitatif.

Sebagai pemimpin formal, kepala sekolah bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya menggerakkan para bawahan ke arah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Hal ini, kepala sekolah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik fungsi yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun penciptaan iklim dan budaya sekolah yang konduktif bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif, efisien, dan produktif. Tidak jauh berbeda dan masih berkaitan dengan point terakhir seperti yang dibahas sebelumnya bahwa kepala sekolah bertanggung jawab atas kualitas sumber daya yang ada agar mampu menjalankan tugas yang diberikan.

BACA JUGA:  Lomba Virtual PGRI Ranting Tingkatkan Persatuan dan Kerukunan Warga Sekolah

Adapun kaitannya ialah mengenai tanggung jawab kepala sekolah terhadap pembagian tugas yang diberikan. Kepala sekolah sebagai pengelola pendidikan harus tetap menjaga kestabilan kualitas sumber daya yang ada. Terlebih pada sumber daya manusia agar tanggung jawab atas tugas yang diberikan dapat terlaksana dengan baik. Tidak hanya itu, kepala sekolah juga hrus bisa meningkatkan kualitas yang ada agar kinerja yang dimiliki juga semakin meningkat.

Berdasarkan penjelasan mengenai gaya kepemimpinan sebelumnya, maka pada dasarnya gaya kepemimpinan merupakan sesuatu yang khas yang dimiliki oleh seorang pemimpin disaat memimpin dan mempengaruhi anggota ataupun bawahannya untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Gaya kepemimpinan tidak hanya dalam bentuk tindakan namun juga termasuk di dalamnya strategi dan sifat seseorang dalam memimpin, maka tentu menjadi sosok pemimpin secara tidak langsung menjadi seorang yang dicontoh dan diperhatikan secara detailnya bagaimana sosok tersebut memimpin.

Setiap pemimpin tentu memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, namun hal tersebut tidaklah menjadi suatu masalah selama pemimpin memahami kondisi yang terjadi di lingkungannya. Pemimpin yang memahami kondisi lingkungan di sekitarnya akan membawa pada gaya kepemimpinan sesuai dengan kondisi yang diperlukan. Artinya ketika suatu pemimpin telah memiliki gaya kepemimpinan tersendiri maka saat kondisi yang terjadi tidak memungkinkan untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang dimilikinya, maka seorang pemimpin akan menggunakan gaya kepemimpinan lain untuk menghadapi kondisi tersebut.

Penulis sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri Srikaton 02 Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Menggunakan gaya kepemimpinan dengan azas demokratis, artinya seorang pemimpin yang bukan otoriter, setiap akan mengambil keputusan pasti akan mendengarkan saran dan masukan dari seluruh dewan guru. Karena dampak dari tiap pengambilan keputusan, akan berpengaruh pada seluruh ekosistem di sekolah tersebut. Dan dengan adanya gaya kepemimpinan tersebut, Penulis telah berhasil membuat suasana lingkungan kerja yang kondusif, rukun, dan kompak dalam mengatasi setiap persoalan di sekolah. (*)

  • Bagikan