Rangkul Anak Jalanan Jadi Santri Ndalan

  • Bagikan
Santri Ndalan Nusantara
GEMBIRA: Santri Ndalan Nusantara usai pentas musik melakukan foto bareng, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI / LINGKAR JATENG)

SEMARANG – Setiap manusia pasti memiliki latar belakang yang berbeda dan unik antara satu dengan yang lainnya. Mereka semua berhak menapaki jalan menuju ridha-Nya.

Pondok Pesantren (Ponpes) Santri Ndalan Nusantara yang berlokasi di Jalan Pleburan Raya No 42, Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, memilih merekrut para santri yang berbeda dengan ponpes lainnya. Ponpes ini mengajak anak-anak, remaja, dan orang dewasa “bermasalah” untuk bisa menimba ilmu di ponpes tersebut. Tak heran jika jamaah di ponpes ini terdiri dari mantan preman, napi, peminum, pemabok hingga pengguna narkoba.

Pengasuh Ponpes Santri Ndalan, Muhammad Nurul Huda mengatakan, ponpes ini bermula dari beberapa anak muda khususnya di Kota Semarang seringkali mengajak curhat mengenai masalah kehidupan, keagamaan,  dan lain sebagainnya. Dari situ, ia kemudian mendirikan Majelis Sholawat. Namun seiring berjalannya waktu, majelis tersebut tidak bisa berkembang. Hingga akhirnya, kata dia, bagaimana caranya anak-anak jalanan bisa mendapatkan ilmu agama di ponpesnya.

“Tahun 2017, saya pernah mendengarkan pembicaraan dari KH Mustofa Bisri. Beliau mengatakan santri bukan hanya mereka yang mondok di pesantren, melainkan siapapun. Mereka yang taat dan patuh terhadap kiai atau nderek dawuhe kiai, mereka bisa dikatakan santri. Mereka berlatar belakang aneka ragam. Bagaimana caranya bisa mnejadi santri, maka terbentuklah Santri Ndalan Nusantra yang bernotaben santri kalong. Artinya, mereka hanya datang ketika kegiatan,” kata Gus Huda, sapaan akrab Pengasuh Ponpes Santri Ndalan kepada Joglo Jateng, Kamis (21/10).

Gus Huda mengungkapkan, santrinya berlatarbelakang anak jalanan, preman, debt collector, dan alumni jeruji besi apapun kasusnya. Menurutnya, santri tersebut bahkan sampai sekarang ada yang belum taubat. Gus Huda menganggap, jika mereka bisa bisa bertaubat, setidaknya bisa menyeimbangkan kebutuhan duniawi dan rohani.

BACA JUGA:  Santri Rutan Ikuti Ujian Evaluasi Pembelajaran

“Itu saya mengingatkan agar mereka tidak lupa dengan Sang Pencipta,” ujarnya.

Ia menceritakan, ada seorang santri yang memiliki tatto kemudian menanyakan terkait apakah ibadah sholat dapat diterima atau tidak. Gus Huda menanggapi, bahwasanya Allah tidak melihat tattonya melainkan keberhasihan hati dari setiap manusia.

“Saya katakan kepada santri itu. Allah tidak melihat tattomu tapi Allah melihat kebersihan hatimu. Jadi teman-teman merasa nyaman,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan jumlah santri yang didik oleh Gus Huda sudah sekitar 250 orang yang berada di Kota Semarang. Bahkan ponpes ini sudah berkembang di luar Semarang. Di antaranya  Wonosobo, Kendal, Magelang, dan Demak.

“Di setiap daerah dianjurkan membuat kegiatan sendiri. Ketika ada problem yang dibilang berat baru dari pusat terjun. Hal itu untuk mengajarkan para santri mandiri,” ucapnya.

Sementara Gus Huda menerangkan bahwa di ponpesnya memiliki santri yang berbakat di dunia musik. Santri tersebut merupakan anak-anak dari jalanan, yang menginginkan belajar kegamaan. “Selain mendapat ilmu agama, Sandal juga memfasilitasi mereka untuk tampil di kegiatan untuk sarana dakwahnya,” terangnya.

Meski mempunyai latar belakang jalanan, Gus Huda berharap kepada para santri agar bisa menjaga sikap lisan dan ucapnya saat hidup di masyarakat.  Hal itu agar mencerminkan seorang santri.

“Konco-konco ndalan, mereka punya kebanggan ketika menjadi santri. Santun dalam berucap tepat dalam bersikap. Artinya  menjaga lisan dan ucapan kedepamya agar mereka harus menjaga lisan dan ucapannya,” ucapnya. (dik/gih)

  • Bagikan