DLH Kota Semarang Gencar Melakukan Pemiliharaan Hutan Kota

  • Bagikan
Kepala Seksi Konservasi Keanekaragaman Hayati DLH Kota Semarang Indriana Puspita Widyasari
Kepala Seksi Konservasi Keanekaragaman Hayati DLH Kota Semarang Indriana Puspita Widyasari. (DICKRI TIFANI / LINGKAR JATENG)

SEMARANG –  Ada sebagian dari sebanyak 13 hutan kota di Kota Semarang beralih fungsi. Untuk itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang gencar melakukan pemeliharaan hutan kota yang baru. Tujuannya agar hutan tersebut memiliki banyak manfaat untuk keberlangungan hidup orang banyak.

Kepala Seksi Konservasi Keanekaragaman Hayati DLH Kota Semarang Indriana Puspita Widyasari menyampaikan, penting melakukan pemeliharaan keberlanjutan hutan kota. Bahkan ada hutan kota di Semarang yang menjadi mangkrak atau jadi tempat pembuangan sampah. Meskipun demikian, ada juga hutan kota yang masih asri dan lestari.

“Tapi ada juga yang masih lestari dan bisa dipertahankan seperti di TBRS, Tinjomoyo, dan Gunung Talang,” kata Ita, sapaan akrab Indriana Puspita Widyasari, Rabu (27/10).

Dijelaskannya, hutan kota Gunung Talang merupakan salah satu lokasi yang vital, sebab menjadi pantauan titik Adipura. Oleh karena itu, pihaknya berupaya mempertahankan kealamian hutan tersebut.

“Jangan sampai ada kegiatan yang menyimpang seperti pembangunan. Di sana digalakkan kegiatan pembibitan dan penanaman pohon. Kami juga tanami rumput vetiver yang akarnya sampai 2-3 meter karena disana kelerengannya curam,” tegasnya.

BACA JUGA:  Brimob Khusus Disiapkan Guna Tangani Potensi Huru-hara Pilkada

Ita menuturkan, menyelamatkan hutan kota dalam rangka pelestarian bisa dilakukan berbagai cara. Salah satunya adalah membuat hutan raya di Tinjomoyo. Menurutnya, jika program tersebut akan mempunyai banyak manfaat untuk masyarakat. Tidak hanya obyek wisara yang bisa mendatangkan wisatawan saja, melainkan juga sebagai konservasi.

“Ini juga sebagai upaya untuk menangani cuaca ekstrem. Ini juga jadi tantangan kita untuk menambah penghijauan dan mengembalikan air lagi ke dalam tanah,” tuturnya.

Ia menerangkan bahwa konservasi air dan air tanah juga menjadi suatu hal yang penting. Pasalnya air tanah banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan artesis, rumah tangga, hingga rumah sakit.

“Di dalam tanah itu ada semacam cekungan yang berisi air, kalau kita tidak berusaha untuk memasukkan air lagi ke tanah, cekungan itu akan berkurang juga. Bagaimana nasib anak cucu kalau cadangan air habis?,” ujarnya. (dik/gih)

  • Bagikan