Melalui Keteladanan, Mari Bersama Kuatkan Karakter Siswa di Masa PJJ

  • Bagikan
Eka Rusmawati, S.Pd
Eka Rusmawati, S.Pd

Oleh : Eka Rusmawati, S.Pd
Guru SDN Wotan 04
Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati

LINGKARJATENG.COM – Guru, orang Tua, dan Masyarakat di lingkungan sekitar yang dekat dengan peserta didik, memegang peranan sangat penting dalam hal keberhasilan sekolah terutama dalam pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter. Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional dalam berinteraksi dengan alam dan manusia. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan harus mampu menumbuhkan karakter dalam diri peserta didik (Syarifah, 2019). Pendidikan karakter sangat penting bagi dunia pendidikan karena dijadikan sebagai wadah atau proses untuk membentuk pribadi anak agar menjadi pribadi yang baik. Oleh karena pentingnya pendidikan karakter, pemerintah telah menerbitkan Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Menurut Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018, Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya disingkat PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan gotong royong. Masing-masing nilai karakter tersebut saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penguatan pendidikan karakter masing-masing nilai karakter tersebut tidak bisa berdiri sendiri.

Pembelajaran jarak jauh difokuskan untuk peningkatan pemahaman siswa mengenai pandemi Covid-19. Adapun aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar peserta didik, sesuai minat, bakat dan kondisi masing-masing, termasuk dalam hal kesenjangan fasilitas belajar di rumah. Bukti aktivitas belajar diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna bagi guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai. Walaupun banyak sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (daring), bukan berarti guru hanya memberikan tugas saja kepada peserta didik, tetapi juga ikut berinteraksi dan berkomunikasi membantu peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan kepada mereka. Guru tetap perlu berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswanya meskipun tidak dari dalam ruang kelas.

Sampai hari ini ruang kelas masih dipandang sebagai pendidikan yang sesungguhnya oleh sebahagian besar masyarakat Indonesia. Masyarakat masih memandang bahwa ruang kelas adalah sekolah yang sesungguhnya dan kelas online itu kurang efektif. Masyarakat belum menganggap kelas daring dapat membantu dalam pendidikan anak meskipun, saat ini telah banyak bermunculan aplikasi pendukung yang bergerak dalam bidang pendidikan berbasis online.

BACA JUGA:  Giatkan Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran saat Pandemi

Masyarakat menganggap bahwa pembelajaran daring berdampak terhadap guru, siswa, dan orang tua di mana pun. Jika sebelumnya ada banyak sekali sekolah yang sudah menggunakan teknologi dalam pembelajaran, maka dalam kondisi pandemi covid-19 ini, semua sekolah di Indonesia dipaksa untuk menerapkan teknologi dalam proses belajar mengajar. Padahal teknologi tidak sepenuhnya dapat membantu proses belajar dari jarak jauh menjadi lebih mudah untuk diterapkan. Ada banyak kendala yang dihadapi oleh siswa dalam menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran jarak jauh adalah salah satunya kendala yang tidak dapat dijangkau oleh teknologi yang lebih dari itu semua adalah teknologi tidak dapat menyentuh salah satu inti dari Pendidikan itu sendiri, yakni pendidikan karakter.

Setiap anggota keluarga yang lebih dewasa harus dapat mengajarkan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan di rumah dan hendaknya rumah menjadi tempat bagi setiap anggota keluarga, khususnya peserta didik untuk bisa memperoleh sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan untuk kehidupan yang penuh makna di masa yang akan datang. Sikap spiritual dan sosial inilah yang akan membentuk karakter peserta didik. Karakter adalah sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki oleh manusia. Pendidikan karakter tidak selalu harus mengandalkan ruang-ruang kelas melalui guru yang secara resmi mengajar di sekolah, namun seyogyanya bisa diperoleh juga dari keluarga yang ada di rumah serta di lingkungan sekitarnya. Pendidikan karakter bertujuan untuk ewujudkan generasi bangsa yang cerdas dan baik dan memiliki akhlak mulia serta kepribadian Indonesia.

Di rumah orang tua harus menjadi tempat penanaman  karakter yang kuat. Orang tua harus dapat memberikan rasa aman terhadap anak –anak agar mereka merasa dekat dan menjadikan orang tuanya sebagai sekolah yang pertama. Jangan sampai anak-anak mengidolakan artis atau orang lain yang ia temui di media sosial atau televisi, sehingga memberikan dampak negative yang kurang baik dan ini bisa disebabkan kurang maksimalnya peran orang tua sebagai sekolah yang pertama bagi mereka di rumah. Oleh sebab itu, Penulis sebagai Guru kelas IV SD Negeri Wotan 04, Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, selalu memantau peserta didiknya dengan berkoordinasi rutin dengan wali murid. Sehingga kegiatan penguatan karakter pada peserta didik pun tetap terjaga di tengah dampak globalisasi yang masih berada di musim Pandemi. (*)

  • Bagikan